BAB VII
Model dakwah Lain
7.2 (MODEL DAKWAH PEMBINAAN KEPRIBADIAN)
Tujuan
Tertib beribadah
Tertib belajar
Tertib berorganisasi/ bermasyarakat
Ciri-ciri, Arah dan Tahapan- tahapan Pembinaannya
Pribadi yang tertib beribadah
Mengusahakan sholat selalu tepat pada waktunya dan berjamaah
Membiasakan berinfaq/ bershodaqoh
Membiasakan bersilaturrohim
Pribadi yang tertib belajar
Mempunyai waktu yang khusus dan tertentu untukbelajar
Mempunyai bacaan lain selain pelajaran sekolah untuk mengembangkan wawasan berfikir
Menghadiri perpustakaan, seminar, diskusi atau pengajian kelompok
Pribadi yang tertib berorganisasi/ bermasyarakat
Mempunyai waktu tertentu untuk aktif di dalam masyarakat/ di suatu organisasi
Punya ketrampilan atau kemampuan tertentu untuk diabdikan pada masyarakat/ organisasi ybs
Punya sikap korektif terhadap masyarakat/ organisasi dan selalu ikut memikirkan agar kondisi masyarakat/ organisasi tersebut lebih baik
7.3 (MODEL DAKWAH MASJID)
7.3.1.1Tujuan
Mewujudkan masjid sebagai:
Wajah Islam
Pusat peribadatan
Pusat kegiatan jamaah
7.3.1.2Tahapan Pembinaan
Masjis sebagai Wajah Islam
Bersih:
Tempat Wudhu
Tempat Mandi /WC
Tempat Ibadah
Rapih:
Penataan Ruang
Ruang Perlengkapan
Rung lain-lain
Penempelan Pengumuman, Hiasan, dll
Indah/ menarik:
Penataan Halaman
Pengapuran
Pengecatan
Masjid sebagai pusat peribadatan
Pemeliharaan Sholat Jamaah
Sholat Jumat
Pemeliharaan Jenazah
Masjid sebagai pusat kegiatan
Belajar Al-quran
Membaca
Menkaji
Dll
Belajar/ Kursus Agama
Mubaligh
Khotib
Kesehatan Mental
Ketrampila, dll
Belajar/ Kelompok Belajar
Bahasa Arab
Bahasa Inggris
Pelajaran Lain
Musyawarah
Rapat/ Sidang
Diskusi
Sarasehan, dll
Ceramah Agama
Dan lain-lain sesuai perkembangan jamaah
Senin, 08 Maret 2010
pel dai 3
III.PELATIHAN DAI’ II (LD-II)
1.Tujuan :
A. Umum : Memberikan suatu bentuk keterampilam berdakwah yang diharapkan akan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada tata kehidupan /pergaulan Islami (hayat al-Islami)
B. Khusus :
Terbentuknya Dai’ pelajar yang mampu melakukan dakwah sehari-hari, mengelola pengajian, dan Pekan Dakwah
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu mengelola Latihan Dai’ (LD-I) dan LD-II
Terbentuknya dai’ Pelajar yang bermental dan berwawasan Islam sehingga mampu menjadi Uswah hasanah bagi Bi ah (lingkungan) nya
2.Target :
Saling kenal mengenal antar peserta hingga terbinanya Ukhuwah Islamiyah
Mengenal tokoh-tokoh masyarakat kalangan agama dan intelektual dll
Terbentuknya Korps Dai’ ba’da (eks) LD-III
3. Jenis materi/ Paket :
Keorganisasian
Apresiasi Laboraturium Dakwah
Sistem Informasi Dakwah
Managemen Dakwah
Penelitian dan Perencanaan Dakwah
Pengelolaan Dakwah
Idiologi
Faham Agama dalam Muhammadiyah (HPT)erbandingan Idiologi
Ke-Iman-an III
Ke-Islam-an III
Pengetahuan Umum
Perubahan Sosial (social change)
Analisis Dampak Lingkungan (topic Feeling Respons)
Penemuan Hukum
Paket
Menyesuaikan Perkembangan Peserta
Materi Khusus
Silaturahim
Kultum
Tadarrus Al-quran
Orientasi
Refleksi
Muhasabah (renungan)
4. Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi dan Pemberian Tugas
Game (ice breaker)
Brainstorming (curah gagasan)
Praktikum/ Simulasi
Silaturrohim
5. Peserta
Mereka yang pernah mengikuti Latihan Dai’ II dan atau Pimpinan Wilayah yang mendapat mandat dari Pimpinan Wilayah
6. Waktu Penyelenggaraan
Latihan dai’ III diselenggarakan selama 5-7 hari, saat liburan semester atau waktu lain yang memungkinkan
7. Tempat
RuangTertutup : Masjid, ruang Kelas, Aula Dll
Ruang Terbuka : Lapangan, Perbukitan, dll
8. Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana dalam pelaksanaan LD-III diusahakan mendukung pencapaian tujuan LD-III yaitu Bi ah wa Hawla al-Islami (lingkungan dan suasana yang islami)
9. Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Pusat
Pengelola : Team Pemandu yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pimpinan Pusat
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan Pusat
10. follow up/ tindak lanjut
Mengelola Laboratorium Dakwah/ Pusat Informasi Dakwah
Melakukan Penelitian dan Perencanaan Dakwah
Mengadakan lembaga Dakwah
1.Tujuan :
A. Umum : Memberikan suatu bentuk keterampilam berdakwah yang diharapkan akan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada tata kehidupan /pergaulan Islami (hayat al-Islami)
B. Khusus :
Terbentuknya Dai’ pelajar yang mampu melakukan dakwah sehari-hari, mengelola pengajian, dan Pekan Dakwah
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu mengelola Latihan Dai’ (LD-I) dan LD-II
Terbentuknya dai’ Pelajar yang bermental dan berwawasan Islam sehingga mampu menjadi Uswah hasanah bagi Bi ah (lingkungan) nya
2.Target :
Saling kenal mengenal antar peserta hingga terbinanya Ukhuwah Islamiyah
Mengenal tokoh-tokoh masyarakat kalangan agama dan intelektual dll
Terbentuknya Korps Dai’ ba’da (eks) LD-III
3. Jenis materi/ Paket :
Keorganisasian
Apresiasi Laboraturium Dakwah
Sistem Informasi Dakwah
Managemen Dakwah
Penelitian dan Perencanaan Dakwah
Pengelolaan Dakwah
Idiologi
Faham Agama dalam Muhammadiyah (HPT)erbandingan Idiologi
Ke-Iman-an III
Ke-Islam-an III
Pengetahuan Umum
Perubahan Sosial (social change)
Analisis Dampak Lingkungan (topic Feeling Respons)
Penemuan Hukum
Paket
Menyesuaikan Perkembangan Peserta
Materi Khusus
Silaturahim
Kultum
Tadarrus Al-quran
Orientasi
Refleksi
Muhasabah (renungan)
4. Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi dan Pemberian Tugas
Game (ice breaker)
Brainstorming (curah gagasan)
Praktikum/ Simulasi
Silaturrohim
5. Peserta
Mereka yang pernah mengikuti Latihan Dai’ II dan atau Pimpinan Wilayah yang mendapat mandat dari Pimpinan Wilayah
6. Waktu Penyelenggaraan
Latihan dai’ III diselenggarakan selama 5-7 hari, saat liburan semester atau waktu lain yang memungkinkan
7. Tempat
RuangTertutup : Masjid, ruang Kelas, Aula Dll
Ruang Terbuka : Lapangan, Perbukitan, dll
8. Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana dalam pelaksanaan LD-III diusahakan mendukung pencapaian tujuan LD-III yaitu Bi ah wa Hawla al-Islami (lingkungan dan suasana yang islami)
9. Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Pusat
Pengelola : Team Pemandu yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pimpinan Pusat
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan Pusat
10. follow up/ tindak lanjut
Mengelola Laboratorium Dakwah/ Pusat Informasi Dakwah
Melakukan Penelitian dan Perencanaan Dakwah
Mengadakan lembaga Dakwah
pel dai 2
II. PELATIHAN DAI’ II (LD-II)
1.Tujuan :
A. Umum : Memberikan suatu bentuk keterampilam berdakwah yang diharapkan akan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada tata kehidupan /pergaulan Islami (hayat al-Islami)
B. Khusus :
Terbentuknya Dai’ pelajar yang mampu melakukan dakwah sehari-hari, mengelola pengajian, dan Pekan Dakwah
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu mengelola Latihan Dai’ (LD-I)
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang bermental dan berwawasan Islam sehingga mampu menjadi Uswah hasanah bagi Bi ah (lingkungan) nya
2.Target :
Memperbanyak silaturrahim antar peserta, hingga lebih mempererat ukhuwah Islamiyah.
Terbentuknya penampilan peserta sebagai Dai’ Muslim yang mencerminkan Uswatun hasanah
Terbentuknya Korps Dai’ ba’da (eks) LD-II
3. Jenis materi/ Paket :
Keorganisasian
Menguasai forum yang efektif
Pengelolaan Korps Dai’
Capita Selecta Dakwah
Problematika Dakwah
Peta Dakwah
Metodologi Dakwah
Idiologi
Perbandingan Idiologi
Ke-Iman-an II
Ke-Islam-an II
Pengetahuan Umum
Psikologi Sosial
Sosiologi Dakwah
Methode Pemahaman Al-quran
Paket
Menyesuaikan Perkembangan Peserta
Materi Khusus
Silaturahim
Kultum
Tadarrus Al-quran
Orientasi
Refleksi
Muhasabah (renungan)
4. Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi dan Pemberian Tugas
Game (ice Breaker)
Braistorming (curah gagasan)
Praktikum/ Simulasi
Silaturrohim
5. Peserta
Mereka yang pernah mengikuti Latihan Dai’ I dan atau Pimpinan Daerah yang mendapat mandat dari Pimpinan Daerah
6. Waktu Penyelenggaraan
Latihan dai’ I diselenggarakan selama 3- 5 hari, saat liburan semester atau waktu lain yang memungkinkan
7. Tempat
RuangTertutup : Masjid, ruang Kelas, Aula Dll
Ruang Terbuka : Lapangan, Perbukitan, dll
8. Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana dalam pelaksanaan LD-II diusahakan mendukung pencapaian tujuan LD-II yaitu Bi ah wa Hawla al-Islami (lingkungan dan suasana yang islami)
9. Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Wilayah
Pengelola : Team Pemandu yang ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah dengan syarat telah mengikuti LD-III (jika memungkinkan/ sikon)
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan Wilayah
10. follow up/ tindak lanjut
Mengelola Korps Dai’ tingkat daerah
Menyusun Peta Dakwah dan mengamati perkembangannya
1.Tujuan :
A. Umum : Memberikan suatu bentuk keterampilam berdakwah yang diharapkan akan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada tata kehidupan /pergaulan Islami (hayat al-Islami)
B. Khusus :
Terbentuknya Dai’ pelajar yang mampu melakukan dakwah sehari-hari, mengelola pengajian, dan Pekan Dakwah
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu mengelola Latihan Dai’ (LD-I)
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang bermental dan berwawasan Islam sehingga mampu menjadi Uswah hasanah bagi Bi ah (lingkungan) nya
2.Target :
Memperbanyak silaturrahim antar peserta, hingga lebih mempererat ukhuwah Islamiyah.
Terbentuknya penampilan peserta sebagai Dai’ Muslim yang mencerminkan Uswatun hasanah
Terbentuknya Korps Dai’ ba’da (eks) LD-II
3. Jenis materi/ Paket :
Keorganisasian
Menguasai forum yang efektif
Pengelolaan Korps Dai’
Capita Selecta Dakwah
Problematika Dakwah
Peta Dakwah
Metodologi Dakwah
Idiologi
Perbandingan Idiologi
Ke-Iman-an II
Ke-Islam-an II
Pengetahuan Umum
Psikologi Sosial
Sosiologi Dakwah
Methode Pemahaman Al-quran
Paket
Menyesuaikan Perkembangan Peserta
Materi Khusus
Silaturahim
Kultum
Tadarrus Al-quran
Orientasi
Refleksi
Muhasabah (renungan)
4. Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi dan Pemberian Tugas
Game (ice Breaker)
Braistorming (curah gagasan)
Praktikum/ Simulasi
Silaturrohim
5. Peserta
Mereka yang pernah mengikuti Latihan Dai’ I dan atau Pimpinan Daerah yang mendapat mandat dari Pimpinan Daerah
6. Waktu Penyelenggaraan
Latihan dai’ I diselenggarakan selama 3- 5 hari, saat liburan semester atau waktu lain yang memungkinkan
7. Tempat
RuangTertutup : Masjid, ruang Kelas, Aula Dll
Ruang Terbuka : Lapangan, Perbukitan, dll
8. Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana dalam pelaksanaan LD-II diusahakan mendukung pencapaian tujuan LD-II yaitu Bi ah wa Hawla al-Islami (lingkungan dan suasana yang islami)
9. Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Wilayah
Pengelola : Team Pemandu yang ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah dengan syarat telah mengikuti LD-III (jika memungkinkan/ sikon)
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan Wilayah
10. follow up/ tindak lanjut
Mengelola Korps Dai’ tingkat daerah
Menyusun Peta Dakwah dan mengamati perkembangannya
kegiatan lanjutan
6.5 KEGIATAN LANJUTAN
6.5.1 Pengertian
Kegiatan lanjut disebut juga sebagai Pola Dakwah II, yang meliputi Pelatihan Dai’I, Pelatihan Dai’ II, dan Pelatihan Dai’III adalah Pola Dakwah di kalangan pelajar yang diselenggarakan dalam satuan waktu tertentu untuk membekali keterampilan berdakwah bagi pelajar.
6.5.2 Bentuk/ Model
Jenjang pertama : Latihan Dai’ kesatu ( LD-I)
Jenjang kedua : Latihan Dai’ kedua (LD-II)
Jenjang ketiga : Latihan Dai’ ketiga (LD-III)
6.5.3 Syarah/ Penjelas
I. PELATIHAN DAI’ I (LD-I)
1.Tujuan
A. Umum : Memberikan suatu bentuk keterampilam berdakwah yang diharapkan akan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada tata kehidupan /pergaulan Islami (hayat al-Islami)
B. Khusus :
Terbentuknya Dai’ pelajar yang mampu melakukan dakwah sehari-hari
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu mengelola pengajian
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu menyelenggarakan Pekan Dakwah
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang bermental dan berwawasan Islam sehingga mampu menjadi Uswah hasanah bagi Bi ah (lingkungan) nya
2.Target
Saling kenal mengenal sesama peserta, hingga memungkinkan terbinanya ukhuwah Islamiyah.
Membuat kerangka persiapan bagi pembentukan kelompok-kelompok pengajian dan penyelenggaraan Pekan Dakwah
Terbentuknya Korps Dai’ ba’da (eks) LD-I
3. Jenis materi/ Paket :
Keorganisasian
Teknik Pemecahan Masalah Organisasi
Teknik Persidangan
Pengantar Administrasi
Teknik Pengolahan Dana
Metodologi Dakwah
Diagnosa Khutbah
Publisistik Dakwah
Pengembangan Kegiatan Dakwah
Seluk- beluk Objek Dakwah
Ideologi
Pengenalan Ideologi
Ke-Iman-an I
Ke-Islam-an I
Pengetahuan Umum
Psikologi Remaja
Pengantar Sosiologi Remaja
Teknik Belajar Membaca Al-quran
Paket
Menyesuaikan Perkembangan Peserta
Materi Khusus
Silaturahim
Kultum
Tadarrus Al-quran
Orientasi
Refleksi
4. Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi dan Pemberian Tugas
Praktikum/ Simulasi
Game (Ice Breaker)
Brainstorming (Curah Gagasan)
Silaturrohim
1.Peserta
Pimpinan Ranting
Pimpinan Kelompok
Pimpinan Cabang
Ketua dan Wakil Kelompok Belajar, minat, dan Pengajian
6. Waktu Penyelenggaraan
Latihan dai’ I diselenggarakan selama 3- 5 hari, saat liburan semester atau waktu lain yang memungkinkan
7. Tempat
RuangTertutup : Masjid, ruang Kelas, Aula Dll
Ruang Terbuka : Lapangan, Perbukitan, dll
8. Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana dalam pelaksanaan LD-I diusahakan mendukung pencapaian tujuan LD-I yaitu Bi ah wa Hawla al-Islami (lingkungan dan suasana yang islami)
9. Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Daerah
Pengelola : Team Pemandu yang ditetapkan oleh Pimpinan Daerah dengan syarat telah mengikuti LD-II
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan daerah
10. Follow up/ tindak lanjut
Mengelola kelompok- kelompok pengajian, minat, dan belajar
Mengelola Statistik Dakwah
6.5.1 Pengertian
Kegiatan lanjut disebut juga sebagai Pola Dakwah II, yang meliputi Pelatihan Dai’I, Pelatihan Dai’ II, dan Pelatihan Dai’III adalah Pola Dakwah di kalangan pelajar yang diselenggarakan dalam satuan waktu tertentu untuk membekali keterampilan berdakwah bagi pelajar.
6.5.2 Bentuk/ Model
Jenjang pertama : Latihan Dai’ kesatu ( LD-I)
Jenjang kedua : Latihan Dai’ kedua (LD-II)
Jenjang ketiga : Latihan Dai’ ketiga (LD-III)
6.5.3 Syarah/ Penjelas
I. PELATIHAN DAI’ I (LD-I)
1.Tujuan
A. Umum : Memberikan suatu bentuk keterampilam berdakwah yang diharapkan akan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada tata kehidupan /pergaulan Islami (hayat al-Islami)
B. Khusus :
Terbentuknya Dai’ pelajar yang mampu melakukan dakwah sehari-hari
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu mengelola pengajian
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang mampu menyelenggarakan Pekan Dakwah
Terbentuknya Dai’ Pelajar yang bermental dan berwawasan Islam sehingga mampu menjadi Uswah hasanah bagi Bi ah (lingkungan) nya
2.Target
Saling kenal mengenal sesama peserta, hingga memungkinkan terbinanya ukhuwah Islamiyah.
Membuat kerangka persiapan bagi pembentukan kelompok-kelompok pengajian dan penyelenggaraan Pekan Dakwah
Terbentuknya Korps Dai’ ba’da (eks) LD-I
3. Jenis materi/ Paket :
Keorganisasian
Teknik Pemecahan Masalah Organisasi
Teknik Persidangan
Pengantar Administrasi
Teknik Pengolahan Dana
Metodologi Dakwah
Diagnosa Khutbah
Publisistik Dakwah
Pengembangan Kegiatan Dakwah
Seluk- beluk Objek Dakwah
Ideologi
Pengenalan Ideologi
Ke-Iman-an I
Ke-Islam-an I
Pengetahuan Umum
Psikologi Remaja
Pengantar Sosiologi Remaja
Teknik Belajar Membaca Al-quran
Paket
Menyesuaikan Perkembangan Peserta
Materi Khusus
Silaturahim
Kultum
Tadarrus Al-quran
Orientasi
Refleksi
4. Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi dan Pemberian Tugas
Praktikum/ Simulasi
Game (Ice Breaker)
Brainstorming (Curah Gagasan)
Silaturrohim
1.Peserta
Pimpinan Ranting
Pimpinan Kelompok
Pimpinan Cabang
Ketua dan Wakil Kelompok Belajar, minat, dan Pengajian
6. Waktu Penyelenggaraan
Latihan dai’ I diselenggarakan selama 3- 5 hari, saat liburan semester atau waktu lain yang memungkinkan
7. Tempat
RuangTertutup : Masjid, ruang Kelas, Aula Dll
Ruang Terbuka : Lapangan, Perbukitan, dll
8. Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana dalam pelaksanaan LD-I diusahakan mendukung pencapaian tujuan LD-I yaitu Bi ah wa Hawla al-Islami (lingkungan dan suasana yang islami)
9. Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Daerah
Pengelola : Team Pemandu yang ditetapkan oleh Pimpinan Daerah dengan syarat telah mengikuti LD-II
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan daerah
10. Follow up/ tindak lanjut
Mengelola kelompok- kelompok pengajian, minat, dan belajar
Mengelola Statistik Dakwah
pengajian
6.4 PENGAJIAN
1.Tujuan
Umum: Memberikan suatu bentuk pembinaan awal untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada Hayatul Islami (kehidupan Islami).
Khusus: Terbentuknya kelompok pribadi(umat) yang berahlaq Islami (ahlaqu al-jamaah)
2.Target
Berkemampuan menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan jamaah (markaz ad-dakwah).
Berkemampuan menjadi umat pilihan bagi lingkungannya
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Pertemuan (Muqobalah) antar pribadi atau anggota kelompok jamaah secara teratur dan rutin untuk saling mengakrabkan sehingga terciptanya hawla ukhuwah islamiyah
Pertemuan antar pribadi atau anggota kelompok jamaah secara teratur dan rutin untuk saling memecahkan persoalan pribadi ( masalah an-nafsiyah) atau lingkungan
Pertemuan antar pribadi atau anggota kelompok jamaah secara teratur dan rutin untuk melakukan kajian-kajian
B Jenis Materi ( Anwau Ad-dirosah)
Materi Dasar : Merupakan kelompok kajian yang sifatnya menumbuhkan minat untuk melakukan perbuatan-perbuatan utama. Seperti : Cara sholat yang tepat dan benar ( sesuai HPT), cara makan dan minum menurut Rasul, cara belajar yang efektif, dll.
Materi Lanjutan : Merupakan materi kajian yang sifatnya:
Problematika, misalnya:
Fungsi sholat bagi kesehatan fisik dan mental
Peran puasa dalam menanggulangi kemiskinan dan kenakalan remaja maupun orang tua
Pengembangan wawasan, misalnya:
Cara mengoperasikan Komputer
Metodologi Penelitian Ilmiah
Kajian Buku Baru
Bahasa Asing (B. Arab dan B. Inggris)
4.Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi
Brainstorming (Curah Pendapat)
Tutoring
Mentoring
Silaturrahmi ( tempat pengajian bergilir)
Muhassabah (renungan)
5.Sasaran
Sasaran Subjek/ objek dakwahnya adalah setiap pribadi sebagai suatu kelompok.
6.Waktu Penyelenggaraan
Pengajian dilakukan secara rutin dan teratur, missal:
Ba’da maghrib
Setiap hari Jumat ( Irmawati)
Setiap Pertengahan Bulan.
Setiap Bulan Sekali
7.Tempat
Dalam ruang tertutup: Masjid, Ruang kelas, Aula,rumah anggota IPM Dll.
Dalam ruang terbuka: Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Pengajian diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Untuk kelancaran pelaksanaan pengajian, hendaklan dibentuk pengurus yang tetap dan dalam waktu tertentu dapat dilakukan pergantian, adapun susunan pengurus sebagai berikut:
Terdiri dari Ketua dan anggota jamaah pengajian, jika jumlah anggotanya tidak lebih dari 15 orang.
Terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, dan seksi- seksi jika dipandang perlu. Ini untuk anggota jamaah yang lebih dari 15 orang
10.Follow up/ Tindak lanjut
Secara terus-menerus hendaklah dapat ditingkatkan:
Kemampuan pengelolaan pengajian yang ada dengan selalu menyempurnakan methode dan materi kajian
Pengembangan anggota jamaah, sehingga memungkinkan terbentuknya komunitas pelajar pilihan dan masyarakat utama yang diridhoi Allah SWT.
1.Tujuan
Umum: Memberikan suatu bentuk pembinaan awal untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada Hayatul Islami (kehidupan Islami).
Khusus: Terbentuknya kelompok pribadi(umat) yang berahlaq Islami (ahlaqu al-jamaah)
2.Target
Berkemampuan menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan jamaah (markaz ad-dakwah).
Berkemampuan menjadi umat pilihan bagi lingkungannya
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Pertemuan (Muqobalah) antar pribadi atau anggota kelompok jamaah secara teratur dan rutin untuk saling mengakrabkan sehingga terciptanya hawla ukhuwah islamiyah
Pertemuan antar pribadi atau anggota kelompok jamaah secara teratur dan rutin untuk saling memecahkan persoalan pribadi ( masalah an-nafsiyah) atau lingkungan
Pertemuan antar pribadi atau anggota kelompok jamaah secara teratur dan rutin untuk melakukan kajian-kajian
B Jenis Materi ( Anwau Ad-dirosah)
Materi Dasar : Merupakan kelompok kajian yang sifatnya menumbuhkan minat untuk melakukan perbuatan-perbuatan utama. Seperti : Cara sholat yang tepat dan benar ( sesuai HPT), cara makan dan minum menurut Rasul, cara belajar yang efektif, dll.
Materi Lanjutan : Merupakan materi kajian yang sifatnya:
Problematika, misalnya:
Fungsi sholat bagi kesehatan fisik dan mental
Peran puasa dalam menanggulangi kemiskinan dan kenakalan remaja maupun orang tua
Pengembangan wawasan, misalnya:
Cara mengoperasikan Komputer
Metodologi Penelitian Ilmiah
Kajian Buku Baru
Bahasa Asing (B. Arab dan B. Inggris)
4.Methode dan Teknik
Ceramah
Diskusi
Brainstorming (Curah Pendapat)
Tutoring
Mentoring
Silaturrahmi ( tempat pengajian bergilir)
Muhassabah (renungan)
5.Sasaran
Sasaran Subjek/ objek dakwahnya adalah setiap pribadi sebagai suatu kelompok.
6.Waktu Penyelenggaraan
Pengajian dilakukan secara rutin dan teratur, missal:
Ba’da maghrib
Setiap hari Jumat ( Irmawati)
Setiap Pertengahan Bulan.
Setiap Bulan Sekali
7.Tempat
Dalam ruang tertutup: Masjid, Ruang kelas, Aula,rumah anggota IPM Dll.
Dalam ruang terbuka: Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Pengajian diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Untuk kelancaran pelaksanaan pengajian, hendaklan dibentuk pengurus yang tetap dan dalam waktu tertentu dapat dilakukan pergantian, adapun susunan pengurus sebagai berikut:
Terdiri dari Ketua dan anggota jamaah pengajian, jika jumlah anggotanya tidak lebih dari 15 orang.
Terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, dan seksi- seksi jika dipandang perlu. Ini untuk anggota jamaah yang lebih dari 15 orang
10.Follow up/ Tindak lanjut
Secara terus-menerus hendaklah dapat ditingkatkan:
Kemampuan pengelolaan pengajian yang ada dengan selalu menyempurnakan methode dan materi kajian
Pengembangan anggota jamaah, sehingga memungkinkan terbentuknya komunitas pelajar pilihan dan masyarakat utama yang diridhoi Allah SWT.
masa pembekalan
6.3 MASA PEMBEKALAN
1.Tujuan
Umum: Memberikan suatu bentuk pembinaan awal untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada Hayatul Islami (kehidupan Islami).
Khusus:
Menggembirakan calon anggota/ simpatisan IPM dalam berperilaku (dakwah) Islami
Memperkenalkan Muhammadiyah, Ortom dan gerakannya secara global serta memperkenalkan secara lebih khusus IPM sebagai organisasi yang menghimpun seluruh Pelajar Muhammadiyah. Sehingga menumbuhkan semangat untuk menggapai maqoshidu IPM (tujuan) dan fahman islam sebagai mana fahman Muhammadiyah.
Memberikan media latihan bagi pimpinan IPM dan atau Dai’ pelajar dalam memimpin anggota atau simpatisannya, sehingga dapat lebih menghayati makna berorganisasi dan berjuang fi sabilillah.
2.Target
Saling mengenal ( muta’arrifan) sesama peserta sehingga terbina Ukhuwah Islamiyah.
Mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan ortom-ortomnya terutama IRM serta tokoh mansyarakat dalam lingkungan.
Mengenal perilaku islami sehingga menimbulkan gairah untuk melaksanakannya.
Mengerti dan memahami system study yang diberlakukan di sekolah ( Khusus Ranting).
Adanya pendataan mengenal bakat, minat, dan pengajian.
Adanya gambaran personalia yang diharapkan dapat dicalonkan sebagai pimpinan pada periode berikutnya.
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Pra pembekalan : Silaturrohim kepada Tokoh Muhammadiyah dan Ortomnya, seperti Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, NA, IMM, IPM
Pembekalan : Pemberian Materi
Lomba
Muhasabah (renungan)
B Jenis Materi ( Anwau Ad-dirosah)
Marhalatu As-sanawiyah ( SLTP)
Al-Islam
Dienul Islam
Aqidah Islam
Ibadah Praktis ( Sesuai Himpunan Putusan Tarjih)
Adab Pergaulan Islami
Ke-Muhammadiyah-an
Mengenal Muhammadiyah
Mengenal IPM
Mengenal IPM Ranting/ kelompok
Pelajar dan Dunianya ( pasca SLTP)
Profil Tholibu Al-Islami (Pelajar Islami)
Informasi (khobar) pasca SLTP Sistem Pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU)
Tata cara Mengenakan Busana Muslim (Tsiyabul Muslim) /Seragam Muslim
Paket
Lagu-lagu
Membuat Makalah
Bakti Sosial
Dll ( Lihat Sikon)
Materi Khusus
Tadarrus/ Kajian Al-Quran
Kultum ba’da sholat wajib
Orientasi
Refleksi
Pelatihan Khutbah
Marhalatu Al-‘aliyyah (SLTA)
Al-Islam
Dienul Islam
Aqidah Islam
Ibadah Praktis ( Sesuai Himpunan Putusan Tarjih)
Kilas Balik Perjuangan Rosulullah
Islam dan Tantangan-Tantangannya
Ke-Muhammadiyah-an
Mengenal Muhammadiyah
Keorganisasian
Kepemimpinan
Pelajar dan Dunianya ( pasca SLTP)
Tarbiyatul Al-mihnah ( bimbingan karir)
Kewiraswastaan
Sekilas Perguruan Tinggi di Indonesia
Strategi Memasuki Perguruan Tinggi
Paket
Kreatifitas (permainan, simulasi dll)
Membuat Makalah
Bakti Sosial
Dll ( Lihat Sikon)
Materi Khusus
Taddarus/ Kajian Al-Quran
Kultum ba’da sholat wajib
Orientasi
Refleksi
Pelatihan Khutbah
4.Methode dan Teknik
Ceramah, Dialog, Diskusi, Ice Breaker, Brainstorming
Pemberian Tugas
Kunjungan/ Silaturahmi
Praktek Langsung
Muhassabah (renungan)
5.Mumtahanun ( Peserta )
Seluruh anggota IPM Ranting yang telah selesai mengikuti Ujian Akhir SLTP/SLTA.
Calon anggota/ Simpatisan IPM
6.Waktu Penyelenggaraan
Pra Pembekalan : Dilaksanakan dalam semester akhir sebelum pelaksanaan ujian akhir.
Pembekalan : Dilaksanakan setelah ujian akhir dan diakhiri sebelum pengumuman kelulusan, selama 8 jam dalam 3 hari.
Lomba : Dilaksanakan sebelum pembekalan.
7.Tempat
Dalam ruang tertutup: Masjid, Ruang kelas, Aula, Dll
Dalam ruang terbuka: Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Masa Pembekalan diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Cabang/ Daerah ( sikon)
Pengelola : Team murrobi (Fasilitator Dakwah) yang ditsabitkan (ditetapkan) oleh Pimpinan Cabang/ Daerah
Pelaksana : Pimpinan Ranting/ Kelompok
10.Follow up/ Tindak lanjut
Penanggung Jawab :
Mempersiapkan peserta menjadi Kader IPM
Mempersiapkan adanya transformasi kader
Peserta :
Menggiatkan aktifitas kelompok-kelompok pengajian
Bila memenuhi persyaratan, dapat mengikuti TM II, LD II, dan seterusnya
1.Tujuan
Umum: Memberikan suatu bentuk pembinaan awal untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada Hayatul Islami (kehidupan Islami).
Khusus:
Menggembirakan calon anggota/ simpatisan IPM dalam berperilaku (dakwah) Islami
Memperkenalkan Muhammadiyah, Ortom dan gerakannya secara global serta memperkenalkan secara lebih khusus IPM sebagai organisasi yang menghimpun seluruh Pelajar Muhammadiyah. Sehingga menumbuhkan semangat untuk menggapai maqoshidu IPM (tujuan) dan fahman islam sebagai mana fahman Muhammadiyah.
Memberikan media latihan bagi pimpinan IPM dan atau Dai’ pelajar dalam memimpin anggota atau simpatisannya, sehingga dapat lebih menghayati makna berorganisasi dan berjuang fi sabilillah.
2.Target
Saling mengenal ( muta’arrifan) sesama peserta sehingga terbina Ukhuwah Islamiyah.
Mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan ortom-ortomnya terutama IRM serta tokoh mansyarakat dalam lingkungan.
Mengenal perilaku islami sehingga menimbulkan gairah untuk melaksanakannya.
Mengerti dan memahami system study yang diberlakukan di sekolah ( Khusus Ranting).
Adanya pendataan mengenal bakat, minat, dan pengajian.
Adanya gambaran personalia yang diharapkan dapat dicalonkan sebagai pimpinan pada periode berikutnya.
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Pra pembekalan : Silaturrohim kepada Tokoh Muhammadiyah dan Ortomnya, seperti Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, NA, IMM, IPM
Pembekalan : Pemberian Materi
Lomba
Muhasabah (renungan)
B Jenis Materi ( Anwau Ad-dirosah)
Marhalatu As-sanawiyah ( SLTP)
Al-Islam
Dienul Islam
Aqidah Islam
Ibadah Praktis ( Sesuai Himpunan Putusan Tarjih)
Adab Pergaulan Islami
Ke-Muhammadiyah-an
Mengenal Muhammadiyah
Mengenal IPM
Mengenal IPM Ranting/ kelompok
Pelajar dan Dunianya ( pasca SLTP)
Profil Tholibu Al-Islami (Pelajar Islami)
Informasi (khobar) pasca SLTP Sistem Pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU)
Tata cara Mengenakan Busana Muslim (Tsiyabul Muslim) /Seragam Muslim
Paket
Lagu-lagu
Membuat Makalah
Bakti Sosial
Dll ( Lihat Sikon)
Materi Khusus
Tadarrus/ Kajian Al-Quran
Kultum ba’da sholat wajib
Orientasi
Refleksi
Pelatihan Khutbah
Marhalatu Al-‘aliyyah (SLTA)
Al-Islam
Dienul Islam
Aqidah Islam
Ibadah Praktis ( Sesuai Himpunan Putusan Tarjih)
Kilas Balik Perjuangan Rosulullah
Islam dan Tantangan-Tantangannya
Ke-Muhammadiyah-an
Mengenal Muhammadiyah
Keorganisasian
Kepemimpinan
Pelajar dan Dunianya ( pasca SLTP)
Tarbiyatul Al-mihnah ( bimbingan karir)
Kewiraswastaan
Sekilas Perguruan Tinggi di Indonesia
Strategi Memasuki Perguruan Tinggi
Paket
Kreatifitas (permainan, simulasi dll)
Membuat Makalah
Bakti Sosial
Dll ( Lihat Sikon)
Materi Khusus
Taddarus/ Kajian Al-Quran
Kultum ba’da sholat wajib
Orientasi
Refleksi
Pelatihan Khutbah
4.Methode dan Teknik
Ceramah, Dialog, Diskusi, Ice Breaker, Brainstorming
Pemberian Tugas
Kunjungan/ Silaturahmi
Praktek Langsung
Muhassabah (renungan)
5.Mumtahanun ( Peserta )
Seluruh anggota IPM Ranting yang telah selesai mengikuti Ujian Akhir SLTP/SLTA.
Calon anggota/ Simpatisan IPM
6.Waktu Penyelenggaraan
Pra Pembekalan : Dilaksanakan dalam semester akhir sebelum pelaksanaan ujian akhir.
Pembekalan : Dilaksanakan setelah ujian akhir dan diakhiri sebelum pengumuman kelulusan, selama 8 jam dalam 3 hari.
Lomba : Dilaksanakan sebelum pembekalan.
7.Tempat
Dalam ruang tertutup: Masjid, Ruang kelas, Aula, Dll
Dalam ruang terbuka: Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Masa Pembekalan diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Cabang/ Daerah ( sikon)
Pengelola : Team murrobi (Fasilitator Dakwah) yang ditsabitkan (ditetapkan) oleh Pimpinan Cabang/ Daerah
Pelaksana : Pimpinan Ranting/ Kelompok
10.Follow up/ Tindak lanjut
Penanggung Jawab :
Mempersiapkan peserta menjadi Kader IPM
Mempersiapkan adanya transformasi kader
Peserta :
Menggiatkan aktifitas kelompok-kelompok pengajian
Bila memenuhi persyaratan, dapat mengikuti TM II, LD II, dan seterusnya
pekan dakwah
PEKAN DAKWAH
1.Tujuan
Umum : Memberikan suatu bentuk pembinaan dan rangsangan (syiar) untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada ahwalu al-hayat (situasi kehidupan)/ pergaulan yang dasarkan pada Hayatu al-Islami.
Khusus :
Mengembirakan dan merangsang anggota dan atau simpatisan dalam berperilaku ( dakwah) Islam.
Memperkenalkan Muhammadiyah dan Ortomnya hingga menimbulkan hasrat untuk memahami Islam sebagaimana faham Muhammadiyah dengan harapan selanjutnya menjadi anggota Muhammadiyah.
Memberikan wasilah (media) latihan bagi Pimpinan IRM dan atau Dai’ Pelajar dalam memimpin anggota dan atau simpatisan untuk mewujudkan Ahwalu Al-Islami (suasana Islam) pada Lingkungannya.
2.Target
Saling mengenal sesama peserta, hingga memungkinkan terbinanya Ukhuwah Islamiyah
Mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Ortomnya serta tokoh masyarakat setempat.
Mengenal sisi kehidupan dan perilaku Islami, hingga timbul gairah untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkannya.
Adanya pendataan peserta mengenai bakat, minat, hobby, dan cita-cita, dsb.
Terbentuknya kelompok-kelompok pengajian, minat ,dan belajar.
Adanya gambaran personalia yang diharapkan dapat dicalonkan sebagai pimpinan.
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Lomba
Pameran
Ceramah dan Diskusi
Pendalaman nilai-nilai Islam
Bakti Sosial
Wisata dakwah /Mukhoyyam Ad-dakwah
Muhasabah (renungan)
4. . Methode dan Teknik
Silaturrohim/ Kunjungan
Ceramah, Diskusi, Dialog, Ice breaker, Brainstorming
Pemberian Tugas
Praktek langsung
5. Mumtahanun ( Peserta )
Anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah
Simpatisan IPM
6.Waktu Penyelenggaraan
Waktu penyelenggaraan Pekan Dakwah sesuai dengan kebutuhan, dan diharapkan bertepatan dengan suatu momen tertentu, seperti hari-hari besar Islami, Hari besar nasional, Dll
7.Tempat
Dalam ruang tertutup: Masjid, Ruang kelas, Aula, Dll
Dalam ruang terbuka: Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Pekan Dakwah diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan IPM yang melaksanakan dalam wilayah kewenangannya
Pengelola : Team murrobi (fasilitator dakwah) jika diperlukan, dan dapat dibentuk oleh Pimpinan yang menjadi penanggung jawab kegiatan Daerah
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan IRM yang dibentuk oleh penanggung jawab kegiatan
10.Follow up/ Tindak lanjut
Penanggung jawab:
Mendata Mumtahanun (peserta) Pekan Dakwah.
Monitoring pelaksanaan Follow up mumtahanun
Peserta
Membentuk kelompok- kelompok pengajian, minat, dan belajar.
Jika memungkinkan persyaratannya dapat mengikuti latihan Dai’, Taruna Melati, atau pendidikan khusus bagi Irmawati.
1.Tujuan
Umum : Memberikan suatu bentuk pembinaan dan rangsangan (syiar) untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada ahwalu al-hayat (situasi kehidupan)/ pergaulan yang dasarkan pada Hayatu al-Islami.
Khusus :
Mengembirakan dan merangsang anggota dan atau simpatisan dalam berperilaku ( dakwah) Islam.
Memperkenalkan Muhammadiyah dan Ortomnya hingga menimbulkan hasrat untuk memahami Islam sebagaimana faham Muhammadiyah dengan harapan selanjutnya menjadi anggota Muhammadiyah.
Memberikan wasilah (media) latihan bagi Pimpinan IRM dan atau Dai’ Pelajar dalam memimpin anggota dan atau simpatisan untuk mewujudkan Ahwalu Al-Islami (suasana Islam) pada Lingkungannya.
2.Target
Saling mengenal sesama peserta, hingga memungkinkan terbinanya Ukhuwah Islamiyah
Mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Ortomnya serta tokoh masyarakat setempat.
Mengenal sisi kehidupan dan perilaku Islami, hingga timbul gairah untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkannya.
Adanya pendataan peserta mengenai bakat, minat, hobby, dan cita-cita, dsb.
Terbentuknya kelompok-kelompok pengajian, minat ,dan belajar.
Adanya gambaran personalia yang diharapkan dapat dicalonkan sebagai pimpinan.
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Lomba
Pameran
Ceramah dan Diskusi
Pendalaman nilai-nilai Islam
Bakti Sosial
Wisata dakwah /Mukhoyyam Ad-dakwah
Muhasabah (renungan)
4. . Methode dan Teknik
Silaturrohim/ Kunjungan
Ceramah, Diskusi, Dialog, Ice breaker, Brainstorming
Pemberian Tugas
Praktek langsung
5. Mumtahanun ( Peserta )
Anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah
Simpatisan IPM
6.Waktu Penyelenggaraan
Waktu penyelenggaraan Pekan Dakwah sesuai dengan kebutuhan, dan diharapkan bertepatan dengan suatu momen tertentu, seperti hari-hari besar Islami, Hari besar nasional, Dll
7.Tempat
Dalam ruang tertutup: Masjid, Ruang kelas, Aula, Dll
Dalam ruang terbuka: Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Pekan Dakwah diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan IPM yang melaksanakan dalam wilayah kewenangannya
Pengelola : Team murrobi (fasilitator dakwah) jika diperlukan, dan dapat dibentuk oleh Pimpinan yang menjadi penanggung jawab kegiatan Daerah
Pelaksana : Panitia yang dibentuk oleh Pimpinan IRM yang dibentuk oleh penanggung jawab kegiatan
10.Follow up/ Tindak lanjut
Penanggung jawab:
Mendata Mumtahanun (peserta) Pekan Dakwah.
Monitoring pelaksanaan Follow up mumtahanun
Peserta
Membentuk kelompok- kelompok pengajian, minat, dan belajar.
Jika memungkinkan persyaratannya dapat mengikuti latihan Dai’, Taruna Melati, atau pendidikan khusus bagi Irmawati.
pola dakwah
POLA DAKWAH KESATU
6.1POLA DAKWAH I
6.1.1 (Pengantar)
Pola Dakwah Kesatu adalah Pola Dakwah di kalangan pelajar yang diselenggarakan satuan waktu tertentu, untuk merangsang, membina, dan memantapkan perilaku dakwah bagi pelajar.
Bentuk Pembinaan
Pola Dakwah I diselenggarakan dalam empat usluub (Model) kegiatan, meliputi:
Masa Bimbingan
Pekan Dakwah
Masa Pembekalan
Pengajian
Penjelasan
MASA BIMBINGAN
1.Tujuan
Umum: Memberikan suatu bentuk pembinaan awal untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada Hayatul Islami (kehidupan Islami).
Khusus:
Menggembirakan calon anggota/ simpatisan IPM dalam berperilaku (dakwah) Islami
Memperkenalkan Muhammadiyah, Ortom dan gerakannya secara global serta memperkenalkan secara lebih khusus IPM sebagai organisasi yang menghimpun seluruh Pelajar Muhammadiyah. Sehingga menumbuhkan semangat untuk menggapai maqoshidu IPM (tujuan) dan fahman Islam sebagai mana fahman Muhammadiyah.
Memberikan media latihan bagi pimpinan IPM dan atau Dai’ pelajar dalam memimpin anggota atau simpatisannya, sehingga dapat lebih menghayati makna berorganisasi dan berjuang fi sabilillah.
2.Target
Saling mengenal ( muta’arrifan) sesama peserta sehingga terbina Ukhuwah Islamiyah.
Mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan ortom-ortomnya terutama IPM serta tokoh mansyarakat dalam lingkungan.
Mengenal perilaku islami sehingga menimbulkan gairah untuk melaksanakannya.
Mengerti dan memahami system study yang diberlakukan di sekolah ( Khusus Ranting).
Adanya pendataan mengenai bakat, minat, dan pengajian.
Adanya gambaran personalia yang diharapkan dapat dicalonkan sebagai pimpinan pada periode berikutnya.
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Lomba
Pemberian Materi
Muhasabah (renungan)
B. Jenis Materi ( Anwau Ad-dirosah)
Al-Islam
Dienul Islam
Aqidah Islam
Ibadah Praktis ( Sesuai Himpunan Putusan Tarjih)
Adab Pergaulan Islami
Ke-Muhammadiyah-an
Mengenal Muhammadiyah
Mengenal IPM
Mengenal IPM Ranting/ kelompok
Wawasan Almamater
Mengenal Almamater
Sistem Pendidikan di Sekolah
Tata cara Mengenakan Busana Muslim (Tsiyabul Muslim) /Seragam Muslim
C. Paket
Personal Introduction
Menyanyi
Forum Ukhuwah
Bakti Sosial
Pengisian Angket
Dll. Disesuaikan dengan peserta
4.Methode dan Teknik
Pemanasan (Warming Up)
Ceramah
Dialog
Curah pendapat (Brainstorming)
Game (Ice Breaker)
Pemberian Tugas
Kunjungan/ Silaturahmi
Praktek Langsung
5.Mumtahanun ( Peserta )
Seluruh siswa baru Sekolah Menengah Muhammadiyah Tingkat Pertama/ Atas.
Calon anggota/ Simpatisan IPM
6.Waktu Penyelenggaraan
Masa Bimbingan diselenggarakan pada awal tahun ajaran baru bagi ranting dan waktu yang memungkinkan bagi kelompok, dengan lama 5-7 hari berturut-turut.
Empat hari pertama diselenggarakan di Ranting/ kelompok.
Hari ke-5 dan seterusnya, sampai dengan peresmian anggota dan penutupan, diselenggarakan di Cabang/ Daerah
Setiap hari digunakan waktu 6-9 jam efektif
7.Tempat
Dalam ruang tertutup : Masjid, Ruang kelas, Aula, Dll
Dalam ruang terbuka : Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Masa Bimbingan diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Cabang/ Daerah ( sikon)
Pengelola : Team murrobi'(Fasilitator Dakwah) yang ditsabitkan (ditetapkan) oleh Pimpinan Cabang/ Daerah
Pelaksana : Pimpinan Ranting/ Kelompok
10.Follow up/ Tindak lanjut
Pimpinan Ranting/ Kelompok
Mempersiapkan program-program yang akan melibatkan anggota baru dan segera melaksanakannya setelah Masa Bimbingan selesai. Misal: Pembentukan kelompok-kelompok pengajian, minat, dan belajar, mengadakan TM I, Diskusi I, Latihan dakwah I, atau Pekan Dakwah.
Peserta
Mengikuti kelompok-kelompok pengajian, minat, dan belajar, mengikuti TM I, Diskusi I, LD I atau Pekan Dakwah.
6.1POLA DAKWAH I
6.1.1 (Pengantar)
Pola Dakwah Kesatu adalah Pola Dakwah di kalangan pelajar yang diselenggarakan satuan waktu tertentu, untuk merangsang, membina, dan memantapkan perilaku dakwah bagi pelajar.
Bentuk Pembinaan
Pola Dakwah I diselenggarakan dalam empat usluub (Model) kegiatan, meliputi:
Masa Bimbingan
Pekan Dakwah
Masa Pembekalan
Pengajian
Penjelasan
MASA BIMBINGAN
1.Tujuan
Umum: Memberikan suatu bentuk pembinaan awal untuk menumbuhkan perilaku (dakwah) Islam yang diharapkan membawa kepada situasi kehidupan/ pergaulan yang berdasar pada Hayatul Islami (kehidupan Islami).
Khusus:
Menggembirakan calon anggota/ simpatisan IPM dalam berperilaku (dakwah) Islami
Memperkenalkan Muhammadiyah, Ortom dan gerakannya secara global serta memperkenalkan secara lebih khusus IPM sebagai organisasi yang menghimpun seluruh Pelajar Muhammadiyah. Sehingga menumbuhkan semangat untuk menggapai maqoshidu IPM (tujuan) dan fahman Islam sebagai mana fahman Muhammadiyah.
Memberikan media latihan bagi pimpinan IPM dan atau Dai’ pelajar dalam memimpin anggota atau simpatisannya, sehingga dapat lebih menghayati makna berorganisasi dan berjuang fi sabilillah.
2.Target
Saling mengenal ( muta’arrifan) sesama peserta sehingga terbina Ukhuwah Islamiyah.
Mengenal tokoh-tokoh Muhammadiyah dan ortom-ortomnya terutama IPM serta tokoh mansyarakat dalam lingkungan.
Mengenal perilaku islami sehingga menimbulkan gairah untuk melaksanakannya.
Mengerti dan memahami system study yang diberlakukan di sekolah ( Khusus Ranting).
Adanya pendataan mengenai bakat, minat, dan pengajian.
Adanya gambaran personalia yang diharapkan dapat dicalonkan sebagai pimpinan pada periode berikutnya.
3.Jenis Kegiatan/ Materi ( Al-madah)/ Paket
A. Jenis Kegiatan
Lomba
Pemberian Materi
Muhasabah (renungan)
B. Jenis Materi ( Anwau Ad-dirosah)
Al-Islam
Dienul Islam
Aqidah Islam
Ibadah Praktis ( Sesuai Himpunan Putusan Tarjih)
Adab Pergaulan Islami
Ke-Muhammadiyah-an
Mengenal Muhammadiyah
Mengenal IPM
Mengenal IPM Ranting/ kelompok
Wawasan Almamater
Mengenal Almamater
Sistem Pendidikan di Sekolah
Tata cara Mengenakan Busana Muslim (Tsiyabul Muslim) /Seragam Muslim
C. Paket
Personal Introduction
Menyanyi
Forum Ukhuwah
Bakti Sosial
Pengisian Angket
Dll. Disesuaikan dengan peserta
4.Methode dan Teknik
Pemanasan (Warming Up)
Ceramah
Dialog
Curah pendapat (Brainstorming)
Game (Ice Breaker)
Pemberian Tugas
Kunjungan/ Silaturahmi
Praktek Langsung
5.Mumtahanun ( Peserta )
Seluruh siswa baru Sekolah Menengah Muhammadiyah Tingkat Pertama/ Atas.
Calon anggota/ Simpatisan IPM
6.Waktu Penyelenggaraan
Masa Bimbingan diselenggarakan pada awal tahun ajaran baru bagi ranting dan waktu yang memungkinkan bagi kelompok, dengan lama 5-7 hari berturut-turut.
Empat hari pertama diselenggarakan di Ranting/ kelompok.
Hari ke-5 dan seterusnya, sampai dengan peresmian anggota dan penutupan, diselenggarakan di Cabang/ Daerah
Setiap hari digunakan waktu 6-9 jam efektif
7.Tempat
Dalam ruang tertutup : Masjid, Ruang kelas, Aula, Dll
Dalam ruang terbuka : Lapangan, Perbukitan, Dll
8.Lingkungan dan Suasana
Lingkungan dan suasana pelaksanaan acara Masa Bimbingan diusahakan mendukung pencapaian tujuannya, yaitu Biiatu wa hawlau Al-Islami (Lingkungan dan suasana Islami)
9.Pengorganisasian
Penanggung jawab : Pimpinan Cabang/ Daerah ( sikon)
Pengelola : Team murrobi'(Fasilitator Dakwah) yang ditsabitkan (ditetapkan) oleh Pimpinan Cabang/ Daerah
Pelaksana : Pimpinan Ranting/ Kelompok
10.Follow up/ Tindak lanjut
Pimpinan Ranting/ Kelompok
Mempersiapkan program-program yang akan melibatkan anggota baru dan segera melaksanakannya setelah Masa Bimbingan selesai. Misal: Pembentukan kelompok-kelompok pengajian, minat, dan belajar, mengadakan TM I, Diskusi I, Latihan dakwah I, atau Pekan Dakwah.
Peserta
Mengikuti kelompok-kelompok pengajian, minat, dan belajar, mengikuti TM I, Diskusi I, LD I atau Pekan Dakwah.
metode dakwah
5.6 METODE DAKWAH
Dalam melakukan dakwah, terutama bagi pelajar, ada beberapa metode yang dapat dipertimbangkan. Namun pada prinsipnya dakwah hendaklah disesuaikan dengan kapasitas berfikir obyek dakwah.
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)
“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bertukar fikirlah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya tuhanmu lebih mengetahui siapa yang terpimpin”( QS An-nahl: 125 )
“Kami diperintahkan supaya berbicara (berdakwah) kepada manusia menurut kadar akal kecerdasan mereka masing-masing” (HR Muslim).
Kandungan Firman Allah di atas memberikan deskripsi (gambaran) tentang shiagu ad-dakwah (bentuk dakwah) yang mutanawiah (bermacam-macam), sebagai berikut:
USLUUB ( GAYA )
ARAHAN
HIKMAH
الحكمة
Mauidhatul Hasanah
موعظة الحسنة
Mujadalah Billati Hiya Ahsan
مجدلة
Golongan pelajar, masyarakat cendekiawan, cinta kepada kebenaran, berfikir secara kritis, cepat dan dapat menangkap arti persoalan
Didasarkan pada alasan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal
Golongan pelajar , masyarakat awam, belum dapat berfikir secara kritis, belum dapat menangkap pengertian yang tinggi dari persoalan.
Berupa anjuran dan didikan yang baik-baik dengan ajaran-ajaran yang mudah difahami
Golongan pelajar dan masyarakat yang tingkat kecerdasannya tidak dicapai dengan kedua gaya di atas.
Berupa bertukar fikiran guna mendorong mereka agar dapat berfikir secara sehat dan baik
Shigotul ukhro:
صيغة الأخر
Uswatun Hasanah
ءسوة الحسنة
Lisanul Haal
لسان الحال
Menjadi teladan atau contoh bagi masyarakat dan pelajar
Berupa jujur, sopan. amanah
Ucapan yang langsung diterapkan dengan kerja
Bentuknya: Tidak akan berbunyi, “ Kamu harus mengerjakan ini dan itu!. Tetapi akan berbunyi,
“ Mari kita bersama-sama melakukan ini, dan aku memulainya”
Metode dakwah tersebut, dapat dilakukan binafsi (sendiri) atau jamaah (kelompok). Firman Allah Dalam QS As-Saba’: 46,
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
“…Hanya satu (perkara) yang hendak ku-wasiatkan kepadamu, (yaitu) supaya engkau menegakkan agama Allah, berdua-dua atau sendiri sebatangkara…”
Dalam dakwah, hendaklah dilakukan dengan penuh semangat dan kesungguhan hati, tanpa menghiraukan berat-ringannya medan.
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(41)
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.At-taubah: 41)
Agar pesan dakwah yang disampaikan selalu aktual dan dapat memberi kejelasan akan pengertian Islam yang benar, sehingga dapat menjadi Syifa (obat) bagi jamaah yang tengah membutuhkan penawar, penyejuk hati dan pelita hidup di tengah perkembangan zaman, maka setiap pelajar (Jundi IPM) dan Umat Islam pada umumnya sebagai subjek dakwah dituntut untuk senantiasa memperdalam pengetahuan dan melengkapi keterampilannya dalam berdakwah fi sabilillah. Dengan demikian diharapkan dalam menjalankan amalu ad-dakwah (tugas dakwah),dapat benar-benar mampu menyampaikan pesan-pesan Islam kepada objek dakwah dengan penuh kebijaksanaan dan keberanian.
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ(108)
“Katakanlah, inilah jalan (agama)ku. Aku dan umat yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (keterangan) yang nyata. Dan Maha Suci Allah, dan aku bukanlah orang yang menyekutukan-Nya” (QS Yusuf: 108 )
Berdakwah merupakan tugas yang sangat mulia, tetapi dakwah tidak akan berjalan (stagnan) jika tidak ada sarana dan sistem (metodologi) yang yang mendukungnya. Selain kedua hal di atas dakwah juga didukung dengan situasi yang mendukungnya. Anis matta (Menikmati Demokrasi. 2002: 2) menyebutnya sebagai majelis ilmu, artinya dalam melakukan dakwah kita harus memperhatikan keimanan dan keilmuan sebagai modal untuk kekuatan dan keberhasilan dalam berdakwah yaitu dengan mengadakan kelompok-kelompok kecil untuk menambah keilmuan dan ketaqwaan.
Sesungguhnya, bukan hanya kita, para da'i, yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun memiliki kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnya penghentian. Tapi, sahabat-sahabat Rosulullah yaitu generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan kaenanya behak meletakan kaidah-kaidah dakwah- menyebutnya majelis Iman. Maka Ibnu Mas'ud bekata, " Duduklah besama kami, biar kita beiman sejenak"
Majelis iman diperlukan untuk beberapa hal. Pertama; untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah seta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbaharuidan mempertajam orientasi kita;melakukan penyelarasan dan penyeimbang berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal,dan target-targe yang dapat kita raih.
Kedua, untukmengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang hendak diraih dalam upaya ini adalah; memperbaharui komitmen dan janjisetia kita kepada Allah SWT. bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu; bahwa kita akan setia memikul baban amanahdakwah ini; bahwa kita akan tetaptegar menghadapi semua tantangan;bahwa yang kita harap darisemuaini hayalar ridhoNya.
Maka majelis Iman adalah tempat kita berkumpul untuk mengisi hati dengan energi yang teripta dari kesadaran baru, semangat baru, tekad baru, harapan baru, dan keberanian baru.
Karena itu,majelis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudahmaki jauh, yaitu:
1.Tahap demi tahap dari keselruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategi dakwah perlahan-lahan kita lalui. Dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan jundiyah dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayaan kembali, kemudian melakukan mobilisasi social untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit. Maka dibutuhkan sarana untuk melakukan mobilisasi.
2.Kita hidup disebuah masyarakat yang tidak stabil atau heterogen. Perubahan-perubahan besar dilingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan apa yang dituntut dari kita, kaum da'I adalah melakukan pengadaptasiaan, penyelarasaan, dan penyeimbang, dan pada waku yang sama meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum.
3.Adanya seleksi dari Allah SWT. secara kontinyu sehingga banyak duat yang berguguran, juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.
Majelis iman harus kita lakukan untuk mengukuhkan sebuah wacana bagi proses penerahan pikiran , penguatan kesadaran, penjernihan jiwa, dan semangat berjuang (jihad). Inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini. Di saat besamaan hal ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkat individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, danaktual disamping kebiasaan muhasabah, memperbaharui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, seta memlihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam mejelis iman untuk kita bagikepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif, semangat idividu menyatu dalam semangat koektif, dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.
Dalam melakukan dakwah, terutama bagi pelajar, ada beberapa metode yang dapat dipertimbangkan. Namun pada prinsipnya dakwah hendaklah disesuaikan dengan kapasitas berfikir obyek dakwah.
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)
“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bertukar fikirlah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya tuhanmu lebih mengetahui siapa yang terpimpin”( QS An-nahl: 125 )
“Kami diperintahkan supaya berbicara (berdakwah) kepada manusia menurut kadar akal kecerdasan mereka masing-masing” (HR Muslim).
Kandungan Firman Allah di atas memberikan deskripsi (gambaran) tentang shiagu ad-dakwah (bentuk dakwah) yang mutanawiah (bermacam-macam), sebagai berikut:
USLUUB ( GAYA )
ARAHAN
HIKMAH
الحكمة
Mauidhatul Hasanah
موعظة الحسنة
Mujadalah Billati Hiya Ahsan
مجدلة
Golongan pelajar, masyarakat cendekiawan, cinta kepada kebenaran, berfikir secara kritis, cepat dan dapat menangkap arti persoalan
Didasarkan pada alasan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal
Golongan pelajar , masyarakat awam, belum dapat berfikir secara kritis, belum dapat menangkap pengertian yang tinggi dari persoalan.
Berupa anjuran dan didikan yang baik-baik dengan ajaran-ajaran yang mudah difahami
Golongan pelajar dan masyarakat yang tingkat kecerdasannya tidak dicapai dengan kedua gaya di atas.
Berupa bertukar fikiran guna mendorong mereka agar dapat berfikir secara sehat dan baik
Shigotul ukhro:
صيغة الأخر
Uswatun Hasanah
ءسوة الحسنة
Lisanul Haal
لسان الحال
Menjadi teladan atau contoh bagi masyarakat dan pelajar
Berupa jujur, sopan. amanah
Ucapan yang langsung diterapkan dengan kerja
Bentuknya: Tidak akan berbunyi, “ Kamu harus mengerjakan ini dan itu!. Tetapi akan berbunyi,
“ Mari kita bersama-sama melakukan ini, dan aku memulainya”
Metode dakwah tersebut, dapat dilakukan binafsi (sendiri) atau jamaah (kelompok). Firman Allah Dalam QS As-Saba’: 46,
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
“…Hanya satu (perkara) yang hendak ku-wasiatkan kepadamu, (yaitu) supaya engkau menegakkan agama Allah, berdua-dua atau sendiri sebatangkara…”
Dalam dakwah, hendaklah dilakukan dengan penuh semangat dan kesungguhan hati, tanpa menghiraukan berat-ringannya medan.
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(41)
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.At-taubah: 41)
Agar pesan dakwah yang disampaikan selalu aktual dan dapat memberi kejelasan akan pengertian Islam yang benar, sehingga dapat menjadi Syifa (obat) bagi jamaah yang tengah membutuhkan penawar, penyejuk hati dan pelita hidup di tengah perkembangan zaman, maka setiap pelajar (Jundi IPM) dan Umat Islam pada umumnya sebagai subjek dakwah dituntut untuk senantiasa memperdalam pengetahuan dan melengkapi keterampilannya dalam berdakwah fi sabilillah. Dengan demikian diharapkan dalam menjalankan amalu ad-dakwah (tugas dakwah),dapat benar-benar mampu menyampaikan pesan-pesan Islam kepada objek dakwah dengan penuh kebijaksanaan dan keberanian.
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ(108)
“Katakanlah, inilah jalan (agama)ku. Aku dan umat yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (keterangan) yang nyata. Dan Maha Suci Allah, dan aku bukanlah orang yang menyekutukan-Nya” (QS Yusuf: 108 )
Berdakwah merupakan tugas yang sangat mulia, tetapi dakwah tidak akan berjalan (stagnan) jika tidak ada sarana dan sistem (metodologi) yang yang mendukungnya. Selain kedua hal di atas dakwah juga didukung dengan situasi yang mendukungnya. Anis matta (Menikmati Demokrasi. 2002: 2) menyebutnya sebagai majelis ilmu, artinya dalam melakukan dakwah kita harus memperhatikan keimanan dan keilmuan sebagai modal untuk kekuatan dan keberhasilan dalam berdakwah yaitu dengan mengadakan kelompok-kelompok kecil untuk menambah keilmuan dan ketaqwaan.
Sesungguhnya, bukan hanya kita, para da'i, yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun memiliki kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnya penghentian. Tapi, sahabat-sahabat Rosulullah yaitu generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan kaenanya behak meletakan kaidah-kaidah dakwah- menyebutnya majelis Iman. Maka Ibnu Mas'ud bekata, " Duduklah besama kami, biar kita beiman sejenak"
Majelis iman diperlukan untuk beberapa hal. Pertama; untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah seta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbaharuidan mempertajam orientasi kita;melakukan penyelarasan dan penyeimbang berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal,dan target-targe yang dapat kita raih.
Kedua, untukmengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang hendak diraih dalam upaya ini adalah; memperbaharui komitmen dan janjisetia kita kepada Allah SWT. bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu; bahwa kita akan setia memikul baban amanahdakwah ini; bahwa kita akan tetaptegar menghadapi semua tantangan;bahwa yang kita harap darisemuaini hayalar ridhoNya.
Maka majelis Iman adalah tempat kita berkumpul untuk mengisi hati dengan energi yang teripta dari kesadaran baru, semangat baru, tekad baru, harapan baru, dan keberanian baru.
Karena itu,majelis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudahmaki jauh, yaitu:
1.Tahap demi tahap dari keselruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategi dakwah perlahan-lahan kita lalui. Dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan jundiyah dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayaan kembali, kemudian melakukan mobilisasi social untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit. Maka dibutuhkan sarana untuk melakukan mobilisasi.
2.Kita hidup disebuah masyarakat yang tidak stabil atau heterogen. Perubahan-perubahan besar dilingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan apa yang dituntut dari kita, kaum da'I adalah melakukan pengadaptasiaan, penyelarasaan, dan penyeimbang, dan pada waku yang sama meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum.
3.Adanya seleksi dari Allah SWT. secara kontinyu sehingga banyak duat yang berguguran, juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.
Majelis iman harus kita lakukan untuk mengukuhkan sebuah wacana bagi proses penerahan pikiran , penguatan kesadaran, penjernihan jiwa, dan semangat berjuang (jihad). Inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini. Di saat besamaan hal ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkat individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, danaktual disamping kebiasaan muhasabah, memperbaharui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, seta memlihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam mejelis iman untuk kita bagikepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif, semangat idividu menyatu dalam semangat koektif, dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.
tujuan dakwah dan kelengkapannya
5.3. TUJUAN DAKWAH
Pada hakekatnya tujuan dakwah adalah untuk merubah situasi – keadaan manusia baik perseorangan maupun kelompok , khususnya dunia pelajar – dari situasi kehidupan yang tanpa moral menjadi situasi penuh akhlaqul karimah, dari suasana jahiliyah menuju suasana tauhid, sehingga kehidupannya mencerminkan pola hidup yang seimbang antara domensi hubungan dengan Allah sebagai pencipta dan hubungan dengan manusia dan alam semesta sebagai sesama ciptaan-Nya.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ(112)
“Mereka itu ditimpa bencana kehidupan dimana saja mereka berada , kecuali dengan tali (Agama) Allah dan tali (perdamaian) manusia ; dan mereka kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah serta ditimpa kemiskinan . Demikian itu, karena mereka kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa kebenaran. Demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas”. (Q.S. Ali Imran : 112 )
“Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah kejelekan dengan amal yang baik sehingga amal kebaikan itu akan menghapus dosa kejelekan , serta pergaulilah manusia dengan akhlak pergaulan yang baik “. (H.R. Ath Thabrany dari Abi Dzar)
Dakwah juga bertujuan merubah keadaan serba sekuler dan materialistis menuju keadaan Islami yang penuh ridla Allah Swt. Dari suasana kepelajaran yang gelap menuju terang benderang . Disamping sudah barang tentu merupakan upaya menghidupkan dan menyempurnakan kualitas kemanusiaan.
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)
“Alif laam raa. (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Ibrahim : 1).
قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ(24)
“Wahai orang yang beriman, sambutlah panggilan Allah dan Rasul-Nya apabila ia memanggil kamu kepada apa-apa yang menghidupkan kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. Al Anfaal : 24 ) .
Dengan memperhatikan seruan Allah dan Rasul-Nya ( Muhammad Saw) , yang kemudian dengan penuh kesadaran mengamalkannya, maka para pelajar dan umat pada umumnya diharapkan dapat memenuhi fungsi hidup yang sebenarnya, mengabdi kepada Allah semata.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56) .
Mereka itu “orang-orang besar” , penuh kebaikan . Dengan ciri khusus : berakhlak mulia dan bermanfa’at bagi sesama pelajar dan masyarakatnya.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(13)
Hai manusia, sesungguhnya kami menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu berkenal-kenalan . Sesungguhnya orang yang termulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa . Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al Hujurat :13) .
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik (mulia) akhlaknya”.
(H.R. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi ) .
خير الناس أنفئهم للناس
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat (berjasa) bagi sesamanya “ . (H.R. Jaabir) .
5.4. LINGKUNGAN DAKWAH
Profil pelajar dan masyarakat yang telah memenuhi fungsi hidup secara benar, merupakan sosok pelajar dan masyarakat yang mempunyai corak kepribadian (Sibghah) yang khas, berwujud kepribadian Islam dan masyarakat Islam . Sebuah kepribadian yang terpilih dan masyarakat yang utama. Itu karena sikap berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar telah menjadi budaya pelajar tersebut, perseorangan maupun kolektif.
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ(138)
“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah ? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah”.
(Q.S. Al Baqarah : 138 ).
Pribadi demikian, bila mendapatkan tantangan akan menyambutnya dengan jiwa yang tenang. Bagi mereka tantangan justru semakin memperteguh iman dan keta’atan.
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا(22)
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya , yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” . (Q.S. Al-Ahzab : 22 ) .
Karakteristik pribadi pilihan ini, dengan jelas telah digambarkan oleh Allah dan Rasul-Nya . Bagaimana menghadapi musuh dalam medan juang, bagaimana melihat persoalan hidup dan mati, dan bagaimana seharusnya menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Apapun persoalannya, tidak akan menjadikan mereka mundur kalau Aqidah dan Agama Allah menjadi taruhannya, sekalipun itu harus ditegaskan dihadapan seorang penguasa yang lalim.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى(13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا(14)
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhannya. Dan kami beri tambahan petunjuk kepadanya . Dan Kami telah meneguhkan hati (keimanan) mereka tatkala mereka berdiri (di hadapan Raja Dikyanus yang kejam itu) lalu mereka itu berkata : “Tuhan kami adalah Tuhan (yang menciptakan) ruang angkasa dan bumi , Kami sekali-kali tidak menyeru (menyembah) Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kami (jika melakukan yang demikian) sudah mengucapkan perkataan yang jauh menyimpang dari kebenaran.”
(Q.S. Al Kahfi ayat 13-14 )
Namun juga tidak lupa daratan , jika mendapatkan kemenangan. Karena kemenangan baginya adalah kemenangan tauhid atas syirik, kemenangan yang haq atas yang bathil, kemenangan “Kalimatullah” atas thaghut, kemenangan Islam atas ideologi , isme dan ajaran-ajaran lain.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya , Dia adalah Maha Penerima Taubat”.
(Q.S.Al-Nashr : 1-3).
Dari pribadi-pribadi yang telah mencapai fungsinya tersebut , memungkinkan dibangun suatu ummat dan lingkungan dakwah yang memiliki corak tersendiri.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi mereka berkasih sayang sesamanya. Kamu lihat, mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaannya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat , lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjadikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan ‘amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Q.S. Al Fath : 29).
Sebuah lingkungan dakwah , yang laksana bangunan indah lagi kokoh, dimana bagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan.
“Orang Mukmin satu dengan yang lain itu laksana bangunan yang kokoh dimana bagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan”.
(H.R. Syaikhoni dari Abu Musa).
Lingkungan dakwah semacam itu, senantiasa menumbuhkan kesadaran akan posisi pelajar dan ummat Islam umumnya secara pribadi maupun sebagai kelompok di hadapan Allah, sehingga dimungkinkan tumbuhnya manusia-manusia pilihan, pelajar-pelajar teladan dan umat yang berkeseimbangan , yang senantiasa menegakkan keadilan dengan berpedoman pada “Risalah” .
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(143)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (Umat Islam) , umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Q.S. Al-Baqarah : 143).
5.5 TANTANGAN DAKWAH
Kehidupan dakwah, tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, baik dari dalam maupun dari luar, sebagai makhluk dakwah apapun tantangannya seorang pelajar harus siap menghadapi. Dalam hal ini ketangguhan, kesabaran, ketrampilan, dan kedisplinan kelompok atau jamaah yang tangguh sangat dituntut.
الم(1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ(3)
“Alif laam miim. Adakah manusia mengira, bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata: “Kami telah beriman, tanpa mereka mendapat cobaan. Sungguh telah kami coba orang-orang sebelum mereka supaya Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar dan mengetahui orang-orang yang dusta (dengan terang dan nyata)”Q.S Al-Ankabut: 1-3
Dengan kesadaran yang sangat mendalam, sebagai jundu Allah ( tentara Allah) kita harus siap dengan cobaan yang akan dihadapi. Cobaan tidak hanya dari luar, dari dalam keluarga pun akan terjadi.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(14)
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S Attaghobun: 14)
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ(120)
“Orang-orang yahudi dan nasrani tiada suka kepadamu, kecuali jika kamu turut kepada mereka. Katakanlah, sesungguhnya, petunjuk Allah adalah sebenarnya petunjuk. Sungguh, jika kamu mendapat pengetahuan, tak ada lagi wali dan penolongmu dari (siksa) Allah” (QS.Al-Baqoroh:120)
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ(61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ(62)
“Tiadalah Aku janjikan kepadamu,hai anak Adam, bahwa janganlah kamu sembah syethan, karena ia musuh nyata bagimu, Kamu sembahlah Aku (Allah)! Inilah jalan yang lurus, Sesungguhnya syethan itu menyesatkan banyak makhluk diantara kamu, tiadalah kamu memikirkan? (QS Yasiin: 60-62)
Di dalam menghadapi cobaan, Allah dengan tegas memberikan deskripsi sikap kepada hamba-Nya, Agar mereka tidak terlena dan putus asa dalam menghadapinya.
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ(35)
“Maka sabarlah kamu (Muhammad), sebagaimana telah sabar orang-orang yang mempunyai kemauan di atara rasul-rasul, dan janganlah kamu minta disegerakan (siksa) untuk mereka. Seolah-olah mereka pada hari (siksa) yang dijanjikan kepada mereka, tiada diam (di dunia), melainkan sesaat dari siang hari. (Inilah) yang disampaikan (kepada mereka), kecuali kaum yang fasik”. (QS Al-Ahqaf: 35)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا(71)
“Hai orang-orang yang beriman, waspadalah kamu (terhadap musuhmu) dan keluarlah kamu (memerangi mereka) dengan berpasukan-pasukan atau keluarlah kamu dengan satu kelompok” (QS. Annisa: 71)
Seiring perkembangan zaman maka cobaan pun semakin meluas, baik meliputi tantangan masa depan maupun tantangan ilmu pengetahuan yang membutuhkan perhatian, oleh sebab itu, sudah semestinya jika pelajar-pelajar Islam harus membekali dirinya dengan kekuatan ilmu (quwatul ilmi).
يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ(33)
“Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu kuasa menembus jurusan-jurusan langit dan bumi, tembuslah! (akan tetapi) kamu tidak akan menembusnya, kecuali dengan kekuatan” (QS Ar-rahman:33)
Dalam memperoleh kekuatan guna menghadapi dan mengatasi berbagai cobaan dan tantangan, Allah pun memberikan Irsyadah (petunjuk) kepada hamba-Nya
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا(78)وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا(80)
”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula sholat Subuh. Sesungguhnya sholat Subuh disaksikan ( oleh Malaikat). Dan pada sebagian malam hari, sembahyang tahajjud sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji.
Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan berikanlah dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”
(QS Al-Isro: 78-80)
Pada hakekatnya tujuan dakwah adalah untuk merubah situasi – keadaan manusia baik perseorangan maupun kelompok , khususnya dunia pelajar – dari situasi kehidupan yang tanpa moral menjadi situasi penuh akhlaqul karimah, dari suasana jahiliyah menuju suasana tauhid, sehingga kehidupannya mencerminkan pola hidup yang seimbang antara domensi hubungan dengan Allah sebagai pencipta dan hubungan dengan manusia dan alam semesta sebagai sesama ciptaan-Nya.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ(112)
“Mereka itu ditimpa bencana kehidupan dimana saja mereka berada , kecuali dengan tali (Agama) Allah dan tali (perdamaian) manusia ; dan mereka kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah serta ditimpa kemiskinan . Demikian itu, karena mereka kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa kebenaran. Demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas”. (Q.S. Ali Imran : 112 )
“Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah kejelekan dengan amal yang baik sehingga amal kebaikan itu akan menghapus dosa kejelekan , serta pergaulilah manusia dengan akhlak pergaulan yang baik “. (H.R. Ath Thabrany dari Abi Dzar)
Dakwah juga bertujuan merubah keadaan serba sekuler dan materialistis menuju keadaan Islami yang penuh ridla Allah Swt. Dari suasana kepelajaran yang gelap menuju terang benderang . Disamping sudah barang tentu merupakan upaya menghidupkan dan menyempurnakan kualitas kemanusiaan.
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)
“Alif laam raa. (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Ibrahim : 1).
قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ(24)
“Wahai orang yang beriman, sambutlah panggilan Allah dan Rasul-Nya apabila ia memanggil kamu kepada apa-apa yang menghidupkan kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. Al Anfaal : 24 ) .
Dengan memperhatikan seruan Allah dan Rasul-Nya ( Muhammad Saw) , yang kemudian dengan penuh kesadaran mengamalkannya, maka para pelajar dan umat pada umumnya diharapkan dapat memenuhi fungsi hidup yang sebenarnya, mengabdi kepada Allah semata.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56) .
Mereka itu “orang-orang besar” , penuh kebaikan . Dengan ciri khusus : berakhlak mulia dan bermanfa’at bagi sesama pelajar dan masyarakatnya.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(13)
Hai manusia, sesungguhnya kami menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu berkenal-kenalan . Sesungguhnya orang yang termulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa . Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al Hujurat :13) .
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik (mulia) akhlaknya”.
(H.R. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi ) .
خير الناس أنفئهم للناس
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat (berjasa) bagi sesamanya “ . (H.R. Jaabir) .
5.4. LINGKUNGAN DAKWAH
Profil pelajar dan masyarakat yang telah memenuhi fungsi hidup secara benar, merupakan sosok pelajar dan masyarakat yang mempunyai corak kepribadian (Sibghah) yang khas, berwujud kepribadian Islam dan masyarakat Islam . Sebuah kepribadian yang terpilih dan masyarakat yang utama. Itu karena sikap berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar telah menjadi budaya pelajar tersebut, perseorangan maupun kolektif.
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ(138)
“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah ? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah”.
(Q.S. Al Baqarah : 138 ).
Pribadi demikian, bila mendapatkan tantangan akan menyambutnya dengan jiwa yang tenang. Bagi mereka tantangan justru semakin memperteguh iman dan keta’atan.
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا(22)
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya , yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” . (Q.S. Al-Ahzab : 22 ) .
Karakteristik pribadi pilihan ini, dengan jelas telah digambarkan oleh Allah dan Rasul-Nya . Bagaimana menghadapi musuh dalam medan juang, bagaimana melihat persoalan hidup dan mati, dan bagaimana seharusnya menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Apapun persoalannya, tidak akan menjadikan mereka mundur kalau Aqidah dan Agama Allah menjadi taruhannya, sekalipun itu harus ditegaskan dihadapan seorang penguasa yang lalim.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى(13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا(14)
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhannya. Dan kami beri tambahan petunjuk kepadanya . Dan Kami telah meneguhkan hati (keimanan) mereka tatkala mereka berdiri (di hadapan Raja Dikyanus yang kejam itu) lalu mereka itu berkata : “Tuhan kami adalah Tuhan (yang menciptakan) ruang angkasa dan bumi , Kami sekali-kali tidak menyeru (menyembah) Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kami (jika melakukan yang demikian) sudah mengucapkan perkataan yang jauh menyimpang dari kebenaran.”
(Q.S. Al Kahfi ayat 13-14 )
Namun juga tidak lupa daratan , jika mendapatkan kemenangan. Karena kemenangan baginya adalah kemenangan tauhid atas syirik, kemenangan yang haq atas yang bathil, kemenangan “Kalimatullah” atas thaghut, kemenangan Islam atas ideologi , isme dan ajaran-ajaran lain.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya , Dia adalah Maha Penerima Taubat”.
(Q.S.Al-Nashr : 1-3).
Dari pribadi-pribadi yang telah mencapai fungsinya tersebut , memungkinkan dibangun suatu ummat dan lingkungan dakwah yang memiliki corak tersendiri.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi mereka berkasih sayang sesamanya. Kamu lihat, mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaannya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat , lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjadikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan ‘amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Q.S. Al Fath : 29).
Sebuah lingkungan dakwah , yang laksana bangunan indah lagi kokoh, dimana bagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan.
“Orang Mukmin satu dengan yang lain itu laksana bangunan yang kokoh dimana bagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan”.
(H.R. Syaikhoni dari Abu Musa).
Lingkungan dakwah semacam itu, senantiasa menumbuhkan kesadaran akan posisi pelajar dan ummat Islam umumnya secara pribadi maupun sebagai kelompok di hadapan Allah, sehingga dimungkinkan tumbuhnya manusia-manusia pilihan, pelajar-pelajar teladan dan umat yang berkeseimbangan , yang senantiasa menegakkan keadilan dengan berpedoman pada “Risalah” .
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(143)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (Umat Islam) , umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Q.S. Al-Baqarah : 143).
5.5 TANTANGAN DAKWAH
Kehidupan dakwah, tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, baik dari dalam maupun dari luar, sebagai makhluk dakwah apapun tantangannya seorang pelajar harus siap menghadapi. Dalam hal ini ketangguhan, kesabaran, ketrampilan, dan kedisplinan kelompok atau jamaah yang tangguh sangat dituntut.
الم(1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ(3)
“Alif laam miim. Adakah manusia mengira, bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata: “Kami telah beriman, tanpa mereka mendapat cobaan. Sungguh telah kami coba orang-orang sebelum mereka supaya Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar dan mengetahui orang-orang yang dusta (dengan terang dan nyata)”Q.S Al-Ankabut: 1-3
Dengan kesadaran yang sangat mendalam, sebagai jundu Allah ( tentara Allah) kita harus siap dengan cobaan yang akan dihadapi. Cobaan tidak hanya dari luar, dari dalam keluarga pun akan terjadi.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(14)
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S Attaghobun: 14)
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ(120)
“Orang-orang yahudi dan nasrani tiada suka kepadamu, kecuali jika kamu turut kepada mereka. Katakanlah, sesungguhnya, petunjuk Allah adalah sebenarnya petunjuk. Sungguh, jika kamu mendapat pengetahuan, tak ada lagi wali dan penolongmu dari (siksa) Allah” (QS.Al-Baqoroh:120)
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ(61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ(62)
“Tiadalah Aku janjikan kepadamu,hai anak Adam, bahwa janganlah kamu sembah syethan, karena ia musuh nyata bagimu, Kamu sembahlah Aku (Allah)! Inilah jalan yang lurus, Sesungguhnya syethan itu menyesatkan banyak makhluk diantara kamu, tiadalah kamu memikirkan? (QS Yasiin: 60-62)
Di dalam menghadapi cobaan, Allah dengan tegas memberikan deskripsi sikap kepada hamba-Nya, Agar mereka tidak terlena dan putus asa dalam menghadapinya.
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ(35)
“Maka sabarlah kamu (Muhammad), sebagaimana telah sabar orang-orang yang mempunyai kemauan di atara rasul-rasul, dan janganlah kamu minta disegerakan (siksa) untuk mereka. Seolah-olah mereka pada hari (siksa) yang dijanjikan kepada mereka, tiada diam (di dunia), melainkan sesaat dari siang hari. (Inilah) yang disampaikan (kepada mereka), kecuali kaum yang fasik”. (QS Al-Ahqaf: 35)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا(71)
“Hai orang-orang yang beriman, waspadalah kamu (terhadap musuhmu) dan keluarlah kamu (memerangi mereka) dengan berpasukan-pasukan atau keluarlah kamu dengan satu kelompok” (QS. Annisa: 71)
Seiring perkembangan zaman maka cobaan pun semakin meluas, baik meliputi tantangan masa depan maupun tantangan ilmu pengetahuan yang membutuhkan perhatian, oleh sebab itu, sudah semestinya jika pelajar-pelajar Islam harus membekali dirinya dengan kekuatan ilmu (quwatul ilmi).
يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ(33)
“Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu kuasa menembus jurusan-jurusan langit dan bumi, tembuslah! (akan tetapi) kamu tidak akan menembusnya, kecuali dengan kekuatan” (QS Ar-rahman:33)
Dalam memperoleh kekuatan guna menghadapi dan mengatasi berbagai cobaan dan tantangan, Allah pun memberikan Irsyadah (petunjuk) kepada hamba-Nya
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا(78)وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا(80)
”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula sholat Subuh. Sesungguhnya sholat Subuh disaksikan ( oleh Malaikat). Dan pada sebagian malam hari, sembahyang tahajjud sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji.
Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan berikanlah dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”
(QS Al-Isro: 78-80)
KONSEP DAN MATERI DAKWAH IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH
5.1(Dasar dakwah)
Pengenalan Islam)
Agama merupakan syariat Allah yang diturunkan kepada lisan para Anbiya’ yang terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan, dan sebagai petunjuk bagi manusia untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat ( HPT Bab Masalah yang lima)
Agama yakni Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang terdapat di dalam Al-Quran dan As sunah Shohihah atau maqbulah, terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan, dan sebagai petunjuk bagi manusia untuk kebahagiaan di dunia dan Akhirat (HPT Bab Masalah yang Lima).
Mengenai agama Allah SWT telah menjelaskan didalam firman-Nya tentang agama dan Islam. Sebagaimana Allah nyatakan dalam QS. Al-Imron: 19
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)
Sesungguhnya Agama (yang benar) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap Ayat-ayat Allah sangat cepat hisab-Nya.
Hal ini berarti, barang siapa memeluk agama selain Islam maka agama itu akan tertolak ( baik dalam Aqidah, Syariat, Aturan Tata Hidup). Allah terangkan dalam QS. Ali Imron: 85
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)
Barang siapa mencari agama selain Agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu), dan di akhirat dia termasuk orang – orang yang merugi.
Agama Islam tersebut, diturunkan oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril kepada Rosul-Nya, Nabi Besar Muhammad SAW sebagai rahmat dan kasih sayang Allah kepada seluruh umat manusia, dengan maksud agar Islam digunakan sebagai pedoman hidup dalam kehidupan dunia seperti beribadah, bergaul, belajar, bekerja dan lain-lain, maupun dalam kehidupan Akhirat.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)
“ Dan tiadalah kami mengutus kamu ( Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107)
Dengan petunjuk itu, manusia diharapkan dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya secara Shodiq (benar) dan munasib ( sesuai Qur-an dan Assunah maqbulah) untuk kemudian menjadi manusia yang sebaik-baiknya baik di mata ( hadapan) Allah maupun di mata manusia. Karena pada dasarnya manusia Allah ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan berguna dalam menghadirkan kemaslahatan. Kemaslahatan untuk menuju maqoshidu As-syariat ( Menjaga Agama (ad-din), Jiwa (al-nafs), Akal (al-aql), harta (al-mal), keturunan ( al Ard). Allah SWT Berfirman di dalam QS at-tin: 4,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4 )
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.
Sesuai fitrah atau kesucian dalam manusia, seiring dengan itu Allah ciptakan Agama Islam sesuai dengan fitrah kejadian manusia. Karenanya, dalam menempuh samudra kehidupan, Islam selalu dapat menjadi pembimbing yang munasib atau sesuai di setiap zaman dan waktu
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(30)
“Maka hadapkanlah wajahmu, dengan lurus kepada agama (Allah). (tetaplah) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
QS. Ar-rum: 30
Oleh karena itu Islam sampai kapan pun tetap merupakan aturan / ajaran yang sangat dinanti-nanti oleh manusia, guna membimbing jalan hidupnya agar terlepas dari kegelapan dan ketidak pastian maupun keragu-raguan didalam hati. Allah menjelaskan masalah itu di dalam QS. Ibrohim: 1,
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)
“alif, laam raa. ( ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap-gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji”
Meskipun demikian, masih ada sebagian kelompok manusia yang menggunakan waktu hidupnya untuk melayani hawa nafsu yang cenderung menjerumuskan.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ(23)
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk, Sesudah Allah ( membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”.( QS. Al-Jatsiyah:23)
Melihat hal demikian maka tingkah laku mereka sulit dibedakan dengan kehidupan hewan, bahkan lebih hina lagi. Allah SWT terangkan didalam QS. Al-A’raf: 179,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(179)
“Dan sesungguhnya, kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( Ayat-ayat Alah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah) mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (Ayat-ayat Allah). Meraka itu seperti binatang ternak , bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Usluub (gaya) manusia seperti yang Allah jelaskan diatas, hidupnya tidak akan mendatangkan kemaslahatan, melainkan membuat kerusakan di mana-mana.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(41)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) QS. Ar-rum: 41
Untuk itu, Allah tetap memberi peringatan agar manusia selalu menempuh jalan kemaslahatan, dan merangkuh Islam secara Kaffah (sempurna). Allah telah menjelaskan di dalam QS Al-Baqaroh: 208,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(208)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya syaithon itu musuh yang nyata bagimu”
5.2 Kewajiban Dakwah
Berdakwah merupakan tugas pokok atau utama bagi para rosul dalam menyampaikan risalahnya.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ(36)
“Dan sesungguhnya, kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat ( untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thogut. Maka diantara Umat itu, ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi, dan perhatikanlah bagaimana kesudahan (akibat) orang-orang yang mendustakan (rasul-rosulnya) QS. An-nahl:36
Sebagai Khotaman nabiyyin, maka Nabi Muhammad SAW mempunyai tugas berdakwah yang dituju kepada seluruh umat (alam). Allah telah berfirman dalam QS. AL-A’raf: 158,
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(158)
“Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kaum kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)
“Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya:107)
Para rasul telah menunaikan tugas dakwah mereka dengan penuh rintangan dan ketabahan yang sangat mendalam, tetapi mereka menghadapinya dengan muka manis dan lapang dada. Sekarang para nabi dan rosul telah menghadap Allah. Maka tugas dakwah dilimpahkan kepada segenap muslimin dan muslimat untuk melanjutkannya. Secara logika surat tidak akan sampai kepada tangan seseorang, jika tidak ada yang menyampaikan, begitu juga risalah (agama) tidak akan sampai kepada manusia jika tidak ada yang mendakwahkannya.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(104)
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” QS. Al-Imron:104
Bagi seorang muslim dakwah merupakan tugas yang sangat mulia. Firman Allah dalam QS. A-Fushilat: 33,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ(33)
“Siapakah yang lebih baik perkataannya, dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Didalam firman-Nya yang lain bahkan Allah menjadikan pelaku dakwah sebagai golongan umat yang terbaik,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ(110)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, serta beriman kepada Allah, sekiranya Ahli Kitab beriman tentulah lebih baik bagi mereka, Diantara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” QS. AL-Imron:110.
Oleh karena itu, merupakan keharusan bagi setiap muslim, termasuk pelajar untuk berdakwah menjadikan diri dan orang lain selamat di dunia dan di akhirat dengan memeluk Islam secara Kaffah.
Pengenalan Islam)
Agama merupakan syariat Allah yang diturunkan kepada lisan para Anbiya’ yang terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan, dan sebagai petunjuk bagi manusia untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat ( HPT Bab Masalah yang lima)
Agama yakni Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang terdapat di dalam Al-Quran dan As sunah Shohihah atau maqbulah, terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan, dan sebagai petunjuk bagi manusia untuk kebahagiaan di dunia dan Akhirat (HPT Bab Masalah yang Lima).
Mengenai agama Allah SWT telah menjelaskan didalam firman-Nya tentang agama dan Islam. Sebagaimana Allah nyatakan dalam QS. Al-Imron: 19
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)
Sesungguhnya Agama (yang benar) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap Ayat-ayat Allah sangat cepat hisab-Nya.
Hal ini berarti, barang siapa memeluk agama selain Islam maka agama itu akan tertolak ( baik dalam Aqidah, Syariat, Aturan Tata Hidup). Allah terangkan dalam QS. Ali Imron: 85
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)
Barang siapa mencari agama selain Agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu), dan di akhirat dia termasuk orang – orang yang merugi.
Agama Islam tersebut, diturunkan oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril kepada Rosul-Nya, Nabi Besar Muhammad SAW sebagai rahmat dan kasih sayang Allah kepada seluruh umat manusia, dengan maksud agar Islam digunakan sebagai pedoman hidup dalam kehidupan dunia seperti beribadah, bergaul, belajar, bekerja dan lain-lain, maupun dalam kehidupan Akhirat.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)
“ Dan tiadalah kami mengutus kamu ( Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107)
Dengan petunjuk itu, manusia diharapkan dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya secara Shodiq (benar) dan munasib ( sesuai Qur-an dan Assunah maqbulah) untuk kemudian menjadi manusia yang sebaik-baiknya baik di mata ( hadapan) Allah maupun di mata manusia. Karena pada dasarnya manusia Allah ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan berguna dalam menghadirkan kemaslahatan. Kemaslahatan untuk menuju maqoshidu As-syariat ( Menjaga Agama (ad-din), Jiwa (al-nafs), Akal (al-aql), harta (al-mal), keturunan ( al Ard). Allah SWT Berfirman di dalam QS at-tin: 4,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4 )
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.
Sesuai fitrah atau kesucian dalam manusia, seiring dengan itu Allah ciptakan Agama Islam sesuai dengan fitrah kejadian manusia. Karenanya, dalam menempuh samudra kehidupan, Islam selalu dapat menjadi pembimbing yang munasib atau sesuai di setiap zaman dan waktu
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(30)
“Maka hadapkanlah wajahmu, dengan lurus kepada agama (Allah). (tetaplah) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
QS. Ar-rum: 30
Oleh karena itu Islam sampai kapan pun tetap merupakan aturan / ajaran yang sangat dinanti-nanti oleh manusia, guna membimbing jalan hidupnya agar terlepas dari kegelapan dan ketidak pastian maupun keragu-raguan didalam hati. Allah menjelaskan masalah itu di dalam QS. Ibrohim: 1,
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)
“alif, laam raa. ( ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap-gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji”
Meskipun demikian, masih ada sebagian kelompok manusia yang menggunakan waktu hidupnya untuk melayani hawa nafsu yang cenderung menjerumuskan.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ(23)
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk, Sesudah Allah ( membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”.( QS. Al-Jatsiyah:23)
Melihat hal demikian maka tingkah laku mereka sulit dibedakan dengan kehidupan hewan, bahkan lebih hina lagi. Allah SWT terangkan didalam QS. Al-A’raf: 179,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(179)
“Dan sesungguhnya, kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( Ayat-ayat Alah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah) mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (Ayat-ayat Allah). Meraka itu seperti binatang ternak , bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Usluub (gaya) manusia seperti yang Allah jelaskan diatas, hidupnya tidak akan mendatangkan kemaslahatan, melainkan membuat kerusakan di mana-mana.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(41)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) QS. Ar-rum: 41
Untuk itu, Allah tetap memberi peringatan agar manusia selalu menempuh jalan kemaslahatan, dan merangkuh Islam secara Kaffah (sempurna). Allah telah menjelaskan di dalam QS Al-Baqaroh: 208,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(208)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya syaithon itu musuh yang nyata bagimu”
5.2 Kewajiban Dakwah
Berdakwah merupakan tugas pokok atau utama bagi para rosul dalam menyampaikan risalahnya.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ(36)
“Dan sesungguhnya, kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat ( untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thogut. Maka diantara Umat itu, ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi, dan perhatikanlah bagaimana kesudahan (akibat) orang-orang yang mendustakan (rasul-rosulnya) QS. An-nahl:36
Sebagai Khotaman nabiyyin, maka Nabi Muhammad SAW mempunyai tugas berdakwah yang dituju kepada seluruh umat (alam). Allah telah berfirman dalam QS. AL-A’raf: 158,
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(158)
“Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kaum kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)
“Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya:107)
Para rasul telah menunaikan tugas dakwah mereka dengan penuh rintangan dan ketabahan yang sangat mendalam, tetapi mereka menghadapinya dengan muka manis dan lapang dada. Sekarang para nabi dan rosul telah menghadap Allah. Maka tugas dakwah dilimpahkan kepada segenap muslimin dan muslimat untuk melanjutkannya. Secara logika surat tidak akan sampai kepada tangan seseorang, jika tidak ada yang menyampaikan, begitu juga risalah (agama) tidak akan sampai kepada manusia jika tidak ada yang mendakwahkannya.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(104)
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” QS. Al-Imron:104
Bagi seorang muslim dakwah merupakan tugas yang sangat mulia. Firman Allah dalam QS. A-Fushilat: 33,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ(33)
“Siapakah yang lebih baik perkataannya, dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Didalam firman-Nya yang lain bahkan Allah menjadikan pelaku dakwah sebagai golongan umat yang terbaik,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ(110)
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, serta beriman kepada Allah, sekiranya Ahli Kitab beriman tentulah lebih baik bagi mereka, Diantara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” QS. AL-Imron:110.
Oleh karena itu, merupakan keharusan bagi setiap muslim, termasuk pelajar untuk berdakwah menjadikan diri dan orang lain selamat di dunia dan di akhirat dengan memeluk Islam secara Kaffah.
Pengajian Islam Rutin (PIR)
A.Pengertian
Pengajian Islam Rutin atau disingkat PIR merupakan kegiatan rutin yang membahas tentang dunia Islam dan yang terkait dengannya yang diadakan oleh pengurus IPM Ranting. Kegiatan ini diadakan sebagai penguatan nilai-nilai keislaman yang berwawasan rahmatan lil alamin di kalangan pelajar.
B.Nilai – nilai yang mendasari PIR
1.Nilai Keislaman (Menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam).Islam yang dimaksud adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang membawa kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan ketentraman bagi seluruh umat manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Artinya, Islam yang dihadirkan oleh IPM adalah Islam yang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah-ubah dari satu masa ke masa selanjutnya.
2.Nilai Keilmuan (Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu). Nilaiini menunjukkan bahwa IPM memiliki perhatian serius terhadap ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita akan mengetahui dunia secara luas, tidak hanya sebagian saja. Karena dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan berubah. IPM berkeyakinan, ilmu pengetahuan adalah jendela dunia.
3.Nilai Kekaderan (Terbentuknya pelajar muslim yang militan dan berakhlak mulia).Sebagai organisasi kader, nilaiini menjadi konsekuensi tersendiri bahwa IPM sebagai anak panah Muhammadiyah untuk mewujudkan kader yang memiliki militansi dalam berjuang. Tetapi militansi itu ditopang dengan nilai-nilai budi pekerti yang mulia.
4.Nilai Kemandirian (Terbentuknya pelajar muslim yang terampil). Nilaiini ingin mewujudkan kader-kader IPM yang memiliki jiwa yang independen dan memiliki ketrampilan pada bidang tertentu (skill) sebagai bentuk kemandirian personal dan gerakan tanpa tergantung pada pihak lain.
5.Nilai Kemasyarakatan (Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya/ the real islamic society). Nilaikemasyarakatan dalam gerakan IPM berangkat dari kesadaran IPM untuk selalu berpihak kepada cita-cita penguatan masyarakat sipil. Menjadi suatu keniscayaan jika IPM sebagai salah satu ortom Muhammadiyah menyempurnakan tujuan Muhammadiyah di kalangan pelajar.
C.Tujuan
Mewujudkan pribadi-pribadi kader Muhammadiyah yang militan di kalangan pelajar sehingga memiliki wawasan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin serta manyambung silaturahmi di antara para pelajar, guru dan warga sekolah lainnya.
D.Target
1.Terwujudnya pribadi-pribadi pelajar yang sesuai dengan maksud dan tujuan IPM
2.Terwujudnya militansi di kalangan pelajar sehingga mampu menjadi penerus, pelangsung, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah
3.Para pelajar memiliki wawasan keislaman yang luas dan rahmatan lil alamin
4.Saling mengenal lebih dekat antara guru, siswa, dan keluarga siswa
E.Waktu dan Tempat
a.Waktu kegiatan bisa diadakan setiap seminggu atau dua minggu sekali. Semua tergantung kesepakatan dan dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh Pimpinan Ranting IPM setempat.
b.Untuk tempat bisa diadakan di sekolah, di rumah salah satu guru (secara bergiliran), atau di rumah salah satu siswa dengan jadwal yang sudah fiks.
F.Sasaran Peserta
Seluruh siswa di tingkat sekolah/ kelompok/ komunitas/ desa/ masjid/ musollah
G.Penyelenggara
Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhamamdiyah setempat.
H.Materi-Materi
Materi-materi yang diberikan antara lain:
A.Islam sebagai Agama Rahmatan Lil ‘Alamin
B.Memahami Islam dalam Berbagai Perspektif
C.Cara Berislam dalam Perspektif Pelajar
D.Islam Menjawab Tantangan Zaman
E.Memahami Akidah yang Membumi di Kalangan Pelajar
F.Fikih Praktis untuk Pelajar
G.Memahami Fenomena Pelajar dan Perkembangannya
H.Membangun Komunikasi yang Baik antara Siswa, Guru, dan Orangtua
I.Saatnya Menjadi Pelajar yang Berprestasi!
I.Referensi
1.Alquran dan Hadits
2.Himpunan Putusan Tarjih
3.Hidup Islami Keluarga Muhammadiyah
4.Membela teman sebaya
5.Tanfid Mukatamr IPM ke-XVI
6.Buku Panduan Dakwah IPM
J.Metode dan Teknik Pengelolaan
1.Kegiatan ini menjadi tanggung jawab PR IPM setempat yang berkoordinasi dengan pihak sekolah
2.PR IPM mengadakan PIR di setiap masing-masing kelas setiap seminggu/dua minggu sekali
3.Maing-masing kelas memiliki satu orang koordinator yang akan selalu berkoordinasi dengan PR IPM setempat
4.Pertemuan bisa dilakukan di sekolah, di rumah salah satu rumah guru, atau di rumah salah satu siswa di kelompoknya
5.Menghadirkan pembicara/ustadz untuk membahas satu topik tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya, serta diadakan dialog antara pembicara dan peserta
6.Menghadirkan hidangan sederhana dan infaq untuk tuan rumah yang diambil dari infaq para siswa yang hadir pada saat itu
Pengajian Islam Rutin atau disingkat PIR merupakan kegiatan rutin yang membahas tentang dunia Islam dan yang terkait dengannya yang diadakan oleh pengurus IPM Ranting. Kegiatan ini diadakan sebagai penguatan nilai-nilai keislaman yang berwawasan rahmatan lil alamin di kalangan pelajar.
B.Nilai – nilai yang mendasari PIR
1.Nilai Keislaman (Menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam).Islam yang dimaksud adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang membawa kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan ketentraman bagi seluruh umat manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Artinya, Islam yang dihadirkan oleh IPM adalah Islam yang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah-ubah dari satu masa ke masa selanjutnya.
2.Nilai Keilmuan (Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu). Nilaiini menunjukkan bahwa IPM memiliki perhatian serius terhadap ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita akan mengetahui dunia secara luas, tidak hanya sebagian saja. Karena dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan berubah. IPM berkeyakinan, ilmu pengetahuan adalah jendela dunia.
3.Nilai Kekaderan (Terbentuknya pelajar muslim yang militan dan berakhlak mulia).Sebagai organisasi kader, nilaiini menjadi konsekuensi tersendiri bahwa IPM sebagai anak panah Muhammadiyah untuk mewujudkan kader yang memiliki militansi dalam berjuang. Tetapi militansi itu ditopang dengan nilai-nilai budi pekerti yang mulia.
4.Nilai Kemandirian (Terbentuknya pelajar muslim yang terampil). Nilaiini ingin mewujudkan kader-kader IPM yang memiliki jiwa yang independen dan memiliki ketrampilan pada bidang tertentu (skill) sebagai bentuk kemandirian personal dan gerakan tanpa tergantung pada pihak lain.
5.Nilai Kemasyarakatan (Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya/ the real islamic society). Nilaikemasyarakatan dalam gerakan IPM berangkat dari kesadaran IPM untuk selalu berpihak kepada cita-cita penguatan masyarakat sipil. Menjadi suatu keniscayaan jika IPM sebagai salah satu ortom Muhammadiyah menyempurnakan tujuan Muhammadiyah di kalangan pelajar.
C.Tujuan
Mewujudkan pribadi-pribadi kader Muhammadiyah yang militan di kalangan pelajar sehingga memiliki wawasan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin serta manyambung silaturahmi di antara para pelajar, guru dan warga sekolah lainnya.
D.Target
1.Terwujudnya pribadi-pribadi pelajar yang sesuai dengan maksud dan tujuan IPM
2.Terwujudnya militansi di kalangan pelajar sehingga mampu menjadi penerus, pelangsung, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah
3.Para pelajar memiliki wawasan keislaman yang luas dan rahmatan lil alamin
4.Saling mengenal lebih dekat antara guru, siswa, dan keluarga siswa
E.Waktu dan Tempat
a.Waktu kegiatan bisa diadakan setiap seminggu atau dua minggu sekali. Semua tergantung kesepakatan dan dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh Pimpinan Ranting IPM setempat.
b.Untuk tempat bisa diadakan di sekolah, di rumah salah satu guru (secara bergiliran), atau di rumah salah satu siswa dengan jadwal yang sudah fiks.
F.Sasaran Peserta
Seluruh siswa di tingkat sekolah/ kelompok/ komunitas/ desa/ masjid/ musollah
G.Penyelenggara
Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhamamdiyah setempat.
H.Materi-Materi
Materi-materi yang diberikan antara lain:
A.Islam sebagai Agama Rahmatan Lil ‘Alamin
B.Memahami Islam dalam Berbagai Perspektif
C.Cara Berislam dalam Perspektif Pelajar
D.Islam Menjawab Tantangan Zaman
E.Memahami Akidah yang Membumi di Kalangan Pelajar
F.Fikih Praktis untuk Pelajar
G.Memahami Fenomena Pelajar dan Perkembangannya
H.Membangun Komunikasi yang Baik antara Siswa, Guru, dan Orangtua
I.Saatnya Menjadi Pelajar yang Berprestasi!
I.Referensi
1.Alquran dan Hadits
2.Himpunan Putusan Tarjih
3.Hidup Islami Keluarga Muhammadiyah
4.Membela teman sebaya
5.Tanfid Mukatamr IPM ke-XVI
6.Buku Panduan Dakwah IPM
J.Metode dan Teknik Pengelolaan
1.Kegiatan ini menjadi tanggung jawab PR IPM setempat yang berkoordinasi dengan pihak sekolah
2.PR IPM mengadakan PIR di setiap masing-masing kelas setiap seminggu/dua minggu sekali
3.Maing-masing kelas memiliki satu orang koordinator yang akan selalu berkoordinasi dengan PR IPM setempat
4.Pertemuan bisa dilakukan di sekolah, di rumah salah satu rumah guru, atau di rumah salah satu siswa di kelompoknya
5.Menghadirkan pembicara/ustadz untuk membahas satu topik tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya, serta diadakan dialog antara pembicara dan peserta
6.Menghadirkan hidangan sederhana dan infaq untuk tuan rumah yang diambil dari infaq para siswa yang hadir pada saat itu
Dakwah Kritis Transformatif dan Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ)
A.Dasar Pemikiran Panduan Dakwah IPM
IPM memperteguh diri untuk menjadi salah satu pilar penopang persyarikatan Muhammadiyah dengan cara menterjemahkan visi amar makruf nahi munkar ke dalam tujuan ikatan, yaitu terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (pasal 6 maksud dan tujuan IPM pada Anggaran Dasar IPM)
Kesadaran untuk membangun masyarakat utama bukanlah perkara yang mudah, masyarakat utama yang oleh banyak kalangan diterjemahkan sebagai masyarakat madani (civil society) pada dasarnya tidak bisa hanya dibangun dengan semangat menjadi orang muslim yang berahklak mulai saja. Namun, terdapat banyak varian yang saling berkait-kaitan yang menopang sebuah bangunan masyarakat madani. Oleh IPM, pengertian masyarakat madani, terutama di komunitas pelajar, seharusnya dipahami sebagai suatu upaya untuk mananamkan kesadaran beragama yang fitri, sehingga beragama tidak secara taqlid (ikut-ikutan) dan tradisi tetap beragama secara autentik (asli), benar-benar terbebaskan dari konteks sejarah yang merupakan cerminan dari wacana agama dan politik disuatu masa, dengan berbagai benturan tujuan sosial politiknya, memperteguh keimanan mengembangkan kepekaan sosio-historis atas fenomena zaman dan mengasah ketajaman nalar kritis dan mempertinggi akhlak yang berarti membangun nilai yang berorientasi sosial, inklusif dan ilahi ta’ala dari ibadah. Dan intisari dari semua itu adalah kesadaran untuk menjadi insan yang bertauhid (dalam artian manusia yang merdeka)
Dalam rangka itu, oleh bidang Kajian dan Dakwah Islam pada dasarnya dakwah diartikan sebagai upaya pengintegrasian/ penyatuan sistem budaya dengan sistem sosial, baik pada tataran teoritik maupun dalam tataran empirik. Islam sebagai sebuah grand design mengintegrasikan kedua sistem itu dalam kesatuan dan konsentrasi. Sistem budaya yang dimaksud adalah integarsi logis-maknawi yaitu kesatuan nilai, kepercayaan dan pemikiran yang memberi arah kepada perbuatan, menginterpretasikan pengalaman dan membuat hidup bermakna, karena ada kesatuan dan konsistensi. Disinilah letak cita-cita budaya dan ideologi, serta etos intelektual yang akan dibangun oleh IPM. Sedangkan sistem sosial yang dimaksud adalah integrasi kausal-fungsional yaitu kaitan sebab dan akibat, kondisi dan konsekuenis serta tujuan dan fungsi. Pada sistem inilah kita membangun motodologi, konsep dasar ikatan dan beragam tawaran dakwah khusus-alternatif.
Bidang Kajian dan Dakwah Islam berorientasikan pada penanaman nilai-nilai ajaran Islam secara kritis, sehingga dapat membangun identitas pelajar muslim yang memiliki akhlak karimah yang berhubungan erat dengat visi keilmuan dan visi moralitas spiritual. Visi keilmuan yang dimaksud yaitu membuka sebuah ruang pembebasan akal bagui komunitas pelajar untuk secara bersama-sama membangun kesadaran kritis atas khazanah keislaman, melakukan kajian-kajian intensif atas beragam persoalan keislaman dan keummatan. Sedangkan visi moralitas yang dikedepankan adalah suatu upaya untuk menginternalisasikan sutau kesatuan cita-cita moral, nilai dan sikap, penyucian hati untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Dua orientasi dakwah ini tidak terlepas dari kondisi obyektif yang ada yaitu :
1.Faktor Internal
Pertama, IPM memiliki tujuan terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kedua, adanya semacam gejala ketidakseimbangan antar aspek pikir dan zikir - akal dan hati- dikalangan ikatan. Atas dasar kondisi obyektif ini IPM khususnya bidang kajian dan dakwah islam menghendaki terciptanya kader ikatan yang utuh, ememilki keseimbangan anatara aspek pikir dan zikir (akal dan hati)
2.Faktor Eksternal
IPM menghendaki terciptanya suasana kedamaian (salam) dan keadilan sebagai intisari dari islam, dalam kehidupan kemanusiaan yang didasari dari budaya IPM yakni kritis, peduli pada ketidakadilan dan transformatif yang beroientasi pada perubahan yang lebih baik dan dinamis
3.Visi Keislaman Pelajar Muhammadiyah
a.Ketauhidan yaitu terciptanya internalisasi nilai-nilai ketuhanan ke dalam pribadi manusia dalam rangka mencari kebenaran (atau bermujahadah), yaitu usaha menumbuhkan etos iman yang kreatif dalam rangka mencari kebenaran sebagai sesuatu yang fitri. (QS. Al-Ikhlash: 1-4)
b.Pembebasan (liberatif), yaitu bahwa syahadah dalam terminologi dan kerangka berpikir muslim merupakan pernyataan yang bermula dengan menafikan lalu dititik puncaknya adalah penisbahan (laa ilaaha illalah)
c.Pemanusiaan (humanizing) yaitu bahwa prinsip dasar dari sebuah seruan moral adalah usaha untuk mengaktualkan potensi fitrah manusia. Dengan pijakan gerak ini maka usaha dakwah diarahkan pada sisi esoterik (bathin) guna menggugah kesadaran primordial ilahiah
d.Perubahan (transformatif) yaitu bahwa pemaknaan –pemaknaan terhadap teks harus diiringi dengan pemahaman terhadap konteks, sehingga teks-teks alquran tidak hanya menjadi bacaan yang menambah kesalehan individual saja namun lebih dari itu mampu melakukan rekayasa sosial.
e.Toleransi (tasamuh) yaitu bahwa prinsip dasar yang harus dipenuhi dari kehidupan yang sangat pluralistik dan beraneka ragam adalah sikap toleransi atas perbedaan yang ada.
f.Keadilan (al-‘adalah) yaitu menyadari sepenuhnya bahwa nilai keadilan adalah merupakan suatu nilai yang harus ditegakkan dalam misi kekhalifahan manusia di muka bumi demi terciptanya kesejahtreraan sosial.
g.Kemajuan (progresif) yaitu mampu mendorong setiap orang untuk mengembangkan dan meningkatkan diri dan keadaannya ke kondisi yang lebih baik atau memberi kebebasan kepada manusia untuk mengembangkan dirinya dan keadaannya.
h.Pemberdayaan (advokatif) yaitu mampu mendorong setiap orang untuk melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap setiap haknya.
i.Persaudaraan (ukhuwah) yaitu bahwa kader IPM sebagai manusia yang beriman harus mampu menjaga ikatan – ikatan persaudaraan sebagai hubungan kemanusiaan baik itu dalam ikatan maupun keseluruhan umat manusia
4.Misi Keislaman Pelajar Muhammadiyah
Pertama, pembebasan akal, indikasi dari kader ikatan yang mempunyai akal dan pikiran yang tercerahkan dan bebas adalah tentunya kader yang merdeka dari taqlid dan tradisi serta berani dalam dialektika pikir.
Usaha yang ditempuh dalam misi ini adalah dengan menata pola pikir yang didukung oleh pengetahuan dan pemahaman logika, analisa sosial (ansos) dan pemahaman keislaman yang bersifat integralistik (menyatu)
Kedua, adalah pencerahan hati, indikasi dari kader yang mempunyai hati bersih dan suci adalah mempunyai sifat berpandangan baik (positif thingking/ huznuzon) terhadap sesuatu masalah apapun dan mempunyai sifat kelapangan hati serta sifat peka sosial (peduli) sebagai sifat dasar dari kemsnuiaan itu sendiri.
5.Strategi Gerakan Keislaman Pelajar Muhammadiyah
IPM adalah gerakan Islam yang menegakkan nilai-nilai tauhid di muka bumi ini. Nilai-nilai tauhid yang telah diperjuangkan oleh para nabi sejak Nabi Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang berisi ajaran amar ma’ruf (humanisasi dan emansipasi) (QS. Ali Imran ayat 104)., nahi munkar (liberasi/ pembebasan) (QS. Ali Imran ayat 110) dan tu’minuna billah (spiritualisasi) (QS. Al-Fatihah ayat 1-7). Tiga nilai itulah yang menjadi dasar bagi IPM untuk menjadikan Islam sebagai agama yang transformatif, agama yang kritis terhadap realitas sosial, pro-perubahan, anti-ketidakadilan, anti-penindasan, anti-pembodohan serta memihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Singkatnya, itulah yang dinamakan Islam transformatif yang menjadi cara pandang IPM dalam berjuang dan harus tertanam kuat pada setiap diri kader IPM.
Untuk mewujudkan IPM menjadi gerakan kritis, maka strategi keislaman yang harus kita bangun adalah Islam yang dinamis. Internalisasi Islam transformatif dalam diri kader dan gerakan menjadi syarat mutlak. Semakin kader memahami apa itu Islam transformatif, maka semakin radikal (mendalam) pula pemahaman mereka dalam merealisasikan gerakan kritis IPM di ranah perjuangan. Selama kader-kader kita masih belum memahami apa itu Islam transformatif, maka selama itu pula gerakan kritis IPM akan mengalami stagnasi (jalan ditempat). Karena pemahaman Islam transformatif merupakan dasar bagi terbangunnya ideologi gerakan kritis IPM.
Komponen strategi implementasi aksi bidang Kajian dan Dakwah Islam diarahkan pada upaya reinterpretasi konsep Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ). Konsep GJDJ sebagai payung besar strategi KDI tidak didefenisikan sebagai aksi dakwah bil lisan semata tapi juga mengacu dalam pengertian yang lebih luas meliputi penajaman aspek-aspek intelektual keislaman dan pemberdayaan serta pendampingan pelajar dalam kegiatan – kegiatan alternatif. Dengan kata lain bidang Kajian dan Dakwah Islam meliputi aksi –aksi yang berwajah intelektual–teoritis dan juga mencakup dimensi pengalaman –pengalaman empirik.
Gerakan jamaah yang dimaksud adalah inti kelompok yang hidup bersama –sama untuk saling belajar dan bertukar pikiran, saling tolong menolong, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sehingga dapat menciptakan suasana keislaman yang bersifat universal serta menyelesaikan problematika hidup sehari-hari. Dakwah jamaah yang dimaksud didasari oleh satu kesatuan tim yang disebut inti jamaah. Dalam realisasinya, inti jamaah ini tidak mengatasnamakan diri sebagai pimpinan, walaupun secara formal menyandang predikat pimpinan.
Model – model yang dapat digunakan dalam GJDJ seperti pendampingan sebaya, model mentoring, pendekatan tutorial, paket muhasabah, kelompok kajian keislaman, kajian on line melalui teknologi internet, radio dan beberapa model alternatif lainnya. Pada Muktamar IRM XVI di Surakarta disepakatilah bahwa agenda aksi bidang Kajiandan Dakwah Islam adalah Pengajian Islam Rutin yang akan dibahas pada bab berikutnya.
BAB III
Permasalahan Pelajar
Dalam perkembangannya pelajar mengalami berbagai macam pilihan hidup, pelajar yang notabenenya masih labil dari segi emisional dan prinsip hidup, sangat mudah untuk dijadikan sebagai obyek penghancuran nilai-nilai dan buday$a, bahkan bisa menjadi agen perubahan menuju kerusakan mentalitas dan moralitas bangsa. Diakui atau tidak, dewasa ini budaya materialis dan pengagungan terhadap wow image atau senang jika dinilai wah oleh orang lain sudah berurat berakar digenerasi muda kita. Sehingga dengan segala cara para pelajar mulai ingin menunjukkan identitas dirinya walaupun cara yang digunakan sangat jauh dari norma susila dan agama. Sebagai contoh, makin maraknya video mesum di kalangan pelajar dan sudah mulai menjamur di masyarakat merupakan bentuk penyimpangan sosial yang kini dianggap sangat biasa dan wajar. Kemudian makin meningkatnya konsumsi pulsa dan penggunaan telepon seluler serta makin sedikit pelajar yang mengkonsumsi buku (budaya membaca). Ini merupakan bukti dari makin mundurnya peradaban intelektual dikalangan pelajar. Untuk itu dapat dipetakan beberapa problematika mendasar yang sekarang menghinggapi hampir semua lapisan pelajar, antara lain :
1.Budaya Pop
Makin meningkatnya taraf hidup seakan membuat orang makin meningkatkan citra diri dari yang semula biasa biasa saja menjadi luar bisa dan ingin disebut wah serta tidak ketinggalan jaman. Akhirnya pelajar pun ikut-ikutan dalam dunia glamour alam modernisasi. Sebagai contoh, dulu pelajar tidak malu ketika membeli sesuatu di pasar tradisional, namun kini harus di mall atau super market. Selain itu budaya shopping juga merambah pada generasi muda sejak anak-anak. Fashion atau busana juga serba tidak karuan, pelajar sudah mulai kehilangan identitasnya. Yang mengerikan lagi, murid atau pelajar Muhammadiyah diwajibkan mengenakan jilbab di sekolah, namun setelah keluar dari linggungan sekolah mereka langsung lepas jilbab. Makanan yang dikonsumsi pun berimbang dengan gaya hidup mereka, serba mewah, serba instant dan serba made in luar negeri.
2.Perkembangan Teknologi Tidak Diimbangi dengan Pendidikan Moral
Arus perkembangan teknologi tidak dapat dibendung lagi, karena tanpa adanya perkembangan teknologi berarti peradaban manusia tidak berkembang atau stagnan. Namun perkembangan ternologi tanpa diimbangi dengan peningkatan pendidikan moral, intelektual dan agama tentu akan terjadi ketimpangan. Seperti perkembangan handphone yang begitu pesat dengan berbagai fiture dan fasilitas baik itu kamera, bloothut maupun video sering disalahgunakan untuk hal-hal yang bertolak belakan dengan budaya dan moralitas. Makin meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar merupakan imbas dari video mesum dari HP ke HP. Internet juga menjadi penyumbang yang cukup besar dalam membobrokkan generasi muda, memang banyak keuntungan yang diperoleh dari internet tetapi lagi-lagi kemampuan moral generasi muda kita belum bisa memproteksi suguhan serba syur di dunia maya tersebut.
3.Penjajahan Budaya (cultural imperialism)
Dibukanya era perdagangan bebas ternyata sangat berpengaruh pada globalisasi budaya, termasuk di Indonesia. Namun hal ini tidak dibarengi dengan filterisasi budaya barat yang masuk, alhasil hampir separuh budaya Indonesia tergeser, termarginalkan dan akhirnya hilang. Sampai-sampai banyak generasi muda yang tidak bangga dengan budayanya sendiri. Coba kita lihat betapa hebohnya perayaan tahun baru Masehi (1 Januari), sedangkan tahun baru Hijiriyah (1 Muharram) hampir hanya orang-orang tua yang merayakan. Hal lain yang mulai membudaya pada generasi muda Islam adalah perayaan Valentine Day yang tidak jelas juntrungnya. Penjajahan budaya ini sangat kentara sekali di kalangan pelajar kita, dari yang dulu tabu kini menjadi biasa seperti pacaran tanpa sex itu hampa. Padahal Allah swt telah memperingatkan manusia untuk tidak mendekati zina. Mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukannya. Alih-alih pemerintah melakukan penanggulangan, malah beberapa waktu lalu disediakan ATM kondom yang katanya untuk menanggulahi HIV AIDS dan PMS lainnya. Padahal secara tidak langsung dengan disediakannya ATM kondom tersebut pemerintah telah melegalkan seks bebas. Na’udzubillah....bahkan pemerintah sekalipun ikut andil dalam meruntuhkan bangunan moral generasi muda.
Kampus terbuka (pendidikan tidak terarah)
4.Kemiskinan dan Imperialisme modern
Dimanapun manusia berada, kemiskinan pasti menjadi hantu yang sangat menakutkan. Kemiskinan akan berakibat pada ketidakmampuan untuk mengenyam pendidikan, kemudian generasi akan menjadi bodoh, selain itu pemenuhan gizi terhambat, mudah terjangkit penyakit, dan berakhir pada tindakan nekat untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya, seperti premanisme, pencurian, perampokan dan lain-lain. Memang antara kemiskinan, pendidikan, dan kejahatan seperli lingkaran syetan yang tidak terpisahkan. Hal ini dibentuk oleh kaum kapitalis atau imperialisme modern yang menyerang bangsa ini dari sektor ekonomi. Masyarakat dibodohkan dan sistem ekonomi dimonopoli oleh orang-orang kuat.
IPM memperteguh diri untuk menjadi salah satu pilar penopang persyarikatan Muhammadiyah dengan cara menterjemahkan visi amar makruf nahi munkar ke dalam tujuan ikatan, yaitu terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (pasal 6 maksud dan tujuan IPM pada Anggaran Dasar IPM)
Kesadaran untuk membangun masyarakat utama bukanlah perkara yang mudah, masyarakat utama yang oleh banyak kalangan diterjemahkan sebagai masyarakat madani (civil society) pada dasarnya tidak bisa hanya dibangun dengan semangat menjadi orang muslim yang berahklak mulai saja. Namun, terdapat banyak varian yang saling berkait-kaitan yang menopang sebuah bangunan masyarakat madani. Oleh IPM, pengertian masyarakat madani, terutama di komunitas pelajar, seharusnya dipahami sebagai suatu upaya untuk mananamkan kesadaran beragama yang fitri, sehingga beragama tidak secara taqlid (ikut-ikutan) dan tradisi tetap beragama secara autentik (asli), benar-benar terbebaskan dari konteks sejarah yang merupakan cerminan dari wacana agama dan politik disuatu masa, dengan berbagai benturan tujuan sosial politiknya, memperteguh keimanan mengembangkan kepekaan sosio-historis atas fenomena zaman dan mengasah ketajaman nalar kritis dan mempertinggi akhlak yang berarti membangun nilai yang berorientasi sosial, inklusif dan ilahi ta’ala dari ibadah. Dan intisari dari semua itu adalah kesadaran untuk menjadi insan yang bertauhid (dalam artian manusia yang merdeka)
Dalam rangka itu, oleh bidang Kajian dan Dakwah Islam pada dasarnya dakwah diartikan sebagai upaya pengintegrasian/ penyatuan sistem budaya dengan sistem sosial, baik pada tataran teoritik maupun dalam tataran empirik. Islam sebagai sebuah grand design mengintegrasikan kedua sistem itu dalam kesatuan dan konsentrasi. Sistem budaya yang dimaksud adalah integarsi logis-maknawi yaitu kesatuan nilai, kepercayaan dan pemikiran yang memberi arah kepada perbuatan, menginterpretasikan pengalaman dan membuat hidup bermakna, karena ada kesatuan dan konsistensi. Disinilah letak cita-cita budaya dan ideologi, serta etos intelektual yang akan dibangun oleh IPM. Sedangkan sistem sosial yang dimaksud adalah integrasi kausal-fungsional yaitu kaitan sebab dan akibat, kondisi dan konsekuenis serta tujuan dan fungsi. Pada sistem inilah kita membangun motodologi, konsep dasar ikatan dan beragam tawaran dakwah khusus-alternatif.
Bidang Kajian dan Dakwah Islam berorientasikan pada penanaman nilai-nilai ajaran Islam secara kritis, sehingga dapat membangun identitas pelajar muslim yang memiliki akhlak karimah yang berhubungan erat dengat visi keilmuan dan visi moralitas spiritual. Visi keilmuan yang dimaksud yaitu membuka sebuah ruang pembebasan akal bagui komunitas pelajar untuk secara bersama-sama membangun kesadaran kritis atas khazanah keislaman, melakukan kajian-kajian intensif atas beragam persoalan keislaman dan keummatan. Sedangkan visi moralitas yang dikedepankan adalah suatu upaya untuk menginternalisasikan sutau kesatuan cita-cita moral, nilai dan sikap, penyucian hati untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Dua orientasi dakwah ini tidak terlepas dari kondisi obyektif yang ada yaitu :
1.Faktor Internal
Pertama, IPM memiliki tujuan terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kedua, adanya semacam gejala ketidakseimbangan antar aspek pikir dan zikir - akal dan hati- dikalangan ikatan. Atas dasar kondisi obyektif ini IPM khususnya bidang kajian dan dakwah islam menghendaki terciptanya kader ikatan yang utuh, ememilki keseimbangan anatara aspek pikir dan zikir (akal dan hati)
2.Faktor Eksternal
IPM menghendaki terciptanya suasana kedamaian (salam) dan keadilan sebagai intisari dari islam, dalam kehidupan kemanusiaan yang didasari dari budaya IPM yakni kritis, peduli pada ketidakadilan dan transformatif yang beroientasi pada perubahan yang lebih baik dan dinamis
3.Visi Keislaman Pelajar Muhammadiyah
a.Ketauhidan yaitu terciptanya internalisasi nilai-nilai ketuhanan ke dalam pribadi manusia dalam rangka mencari kebenaran (atau bermujahadah), yaitu usaha menumbuhkan etos iman yang kreatif dalam rangka mencari kebenaran sebagai sesuatu yang fitri. (QS. Al-Ikhlash: 1-4)
b.Pembebasan (liberatif), yaitu bahwa syahadah dalam terminologi dan kerangka berpikir muslim merupakan pernyataan yang bermula dengan menafikan lalu dititik puncaknya adalah penisbahan (laa ilaaha illalah)
c.Pemanusiaan (humanizing) yaitu bahwa prinsip dasar dari sebuah seruan moral adalah usaha untuk mengaktualkan potensi fitrah manusia. Dengan pijakan gerak ini maka usaha dakwah diarahkan pada sisi esoterik (bathin) guna menggugah kesadaran primordial ilahiah
d.Perubahan (transformatif) yaitu bahwa pemaknaan –pemaknaan terhadap teks harus diiringi dengan pemahaman terhadap konteks, sehingga teks-teks alquran tidak hanya menjadi bacaan yang menambah kesalehan individual saja namun lebih dari itu mampu melakukan rekayasa sosial.
e.Toleransi (tasamuh) yaitu bahwa prinsip dasar yang harus dipenuhi dari kehidupan yang sangat pluralistik dan beraneka ragam adalah sikap toleransi atas perbedaan yang ada.
f.Keadilan (al-‘adalah) yaitu menyadari sepenuhnya bahwa nilai keadilan adalah merupakan suatu nilai yang harus ditegakkan dalam misi kekhalifahan manusia di muka bumi demi terciptanya kesejahtreraan sosial.
g.Kemajuan (progresif) yaitu mampu mendorong setiap orang untuk mengembangkan dan meningkatkan diri dan keadaannya ke kondisi yang lebih baik atau memberi kebebasan kepada manusia untuk mengembangkan dirinya dan keadaannya.
h.Pemberdayaan (advokatif) yaitu mampu mendorong setiap orang untuk melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap setiap haknya.
i.Persaudaraan (ukhuwah) yaitu bahwa kader IPM sebagai manusia yang beriman harus mampu menjaga ikatan – ikatan persaudaraan sebagai hubungan kemanusiaan baik itu dalam ikatan maupun keseluruhan umat manusia
4.Misi Keislaman Pelajar Muhammadiyah
Pertama, pembebasan akal, indikasi dari kader ikatan yang mempunyai akal dan pikiran yang tercerahkan dan bebas adalah tentunya kader yang merdeka dari taqlid dan tradisi serta berani dalam dialektika pikir.
Usaha yang ditempuh dalam misi ini adalah dengan menata pola pikir yang didukung oleh pengetahuan dan pemahaman logika, analisa sosial (ansos) dan pemahaman keislaman yang bersifat integralistik (menyatu)
Kedua, adalah pencerahan hati, indikasi dari kader yang mempunyai hati bersih dan suci adalah mempunyai sifat berpandangan baik (positif thingking/ huznuzon) terhadap sesuatu masalah apapun dan mempunyai sifat kelapangan hati serta sifat peka sosial (peduli) sebagai sifat dasar dari kemsnuiaan itu sendiri.
5.Strategi Gerakan Keislaman Pelajar Muhammadiyah
IPM adalah gerakan Islam yang menegakkan nilai-nilai tauhid di muka bumi ini. Nilai-nilai tauhid yang telah diperjuangkan oleh para nabi sejak Nabi Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang berisi ajaran amar ma’ruf (humanisasi dan emansipasi) (QS. Ali Imran ayat 104)., nahi munkar (liberasi/ pembebasan) (QS. Ali Imran ayat 110) dan tu’minuna billah (spiritualisasi) (QS. Al-Fatihah ayat 1-7). Tiga nilai itulah yang menjadi dasar bagi IPM untuk menjadikan Islam sebagai agama yang transformatif, agama yang kritis terhadap realitas sosial, pro-perubahan, anti-ketidakadilan, anti-penindasan, anti-pembodohan serta memihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Singkatnya, itulah yang dinamakan Islam transformatif yang menjadi cara pandang IPM dalam berjuang dan harus tertanam kuat pada setiap diri kader IPM.
Untuk mewujudkan IPM menjadi gerakan kritis, maka strategi keislaman yang harus kita bangun adalah Islam yang dinamis. Internalisasi Islam transformatif dalam diri kader dan gerakan menjadi syarat mutlak. Semakin kader memahami apa itu Islam transformatif, maka semakin radikal (mendalam) pula pemahaman mereka dalam merealisasikan gerakan kritis IPM di ranah perjuangan. Selama kader-kader kita masih belum memahami apa itu Islam transformatif, maka selama itu pula gerakan kritis IPM akan mengalami stagnasi (jalan ditempat). Karena pemahaman Islam transformatif merupakan dasar bagi terbangunnya ideologi gerakan kritis IPM.
Komponen strategi implementasi aksi bidang Kajian dan Dakwah Islam diarahkan pada upaya reinterpretasi konsep Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ). Konsep GJDJ sebagai payung besar strategi KDI tidak didefenisikan sebagai aksi dakwah bil lisan semata tapi juga mengacu dalam pengertian yang lebih luas meliputi penajaman aspek-aspek intelektual keislaman dan pemberdayaan serta pendampingan pelajar dalam kegiatan – kegiatan alternatif. Dengan kata lain bidang Kajian dan Dakwah Islam meliputi aksi –aksi yang berwajah intelektual–teoritis dan juga mencakup dimensi pengalaman –pengalaman empirik.
Gerakan jamaah yang dimaksud adalah inti kelompok yang hidup bersama –sama untuk saling belajar dan bertukar pikiran, saling tolong menolong, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sehingga dapat menciptakan suasana keislaman yang bersifat universal serta menyelesaikan problematika hidup sehari-hari. Dakwah jamaah yang dimaksud didasari oleh satu kesatuan tim yang disebut inti jamaah. Dalam realisasinya, inti jamaah ini tidak mengatasnamakan diri sebagai pimpinan, walaupun secara formal menyandang predikat pimpinan.
Model – model yang dapat digunakan dalam GJDJ seperti pendampingan sebaya, model mentoring, pendekatan tutorial, paket muhasabah, kelompok kajian keislaman, kajian on line melalui teknologi internet, radio dan beberapa model alternatif lainnya. Pada Muktamar IRM XVI di Surakarta disepakatilah bahwa agenda aksi bidang Kajiandan Dakwah Islam adalah Pengajian Islam Rutin yang akan dibahas pada bab berikutnya.
BAB III
Permasalahan Pelajar
Dalam perkembangannya pelajar mengalami berbagai macam pilihan hidup, pelajar yang notabenenya masih labil dari segi emisional dan prinsip hidup, sangat mudah untuk dijadikan sebagai obyek penghancuran nilai-nilai dan buday$a, bahkan bisa menjadi agen perubahan menuju kerusakan mentalitas dan moralitas bangsa. Diakui atau tidak, dewasa ini budaya materialis dan pengagungan terhadap wow image atau senang jika dinilai wah oleh orang lain sudah berurat berakar digenerasi muda kita. Sehingga dengan segala cara para pelajar mulai ingin menunjukkan identitas dirinya walaupun cara yang digunakan sangat jauh dari norma susila dan agama. Sebagai contoh, makin maraknya video mesum di kalangan pelajar dan sudah mulai menjamur di masyarakat merupakan bentuk penyimpangan sosial yang kini dianggap sangat biasa dan wajar. Kemudian makin meningkatnya konsumsi pulsa dan penggunaan telepon seluler serta makin sedikit pelajar yang mengkonsumsi buku (budaya membaca). Ini merupakan bukti dari makin mundurnya peradaban intelektual dikalangan pelajar. Untuk itu dapat dipetakan beberapa problematika mendasar yang sekarang menghinggapi hampir semua lapisan pelajar, antara lain :
1.Budaya Pop
Makin meningkatnya taraf hidup seakan membuat orang makin meningkatkan citra diri dari yang semula biasa biasa saja menjadi luar bisa dan ingin disebut wah serta tidak ketinggalan jaman. Akhirnya pelajar pun ikut-ikutan dalam dunia glamour alam modernisasi. Sebagai contoh, dulu pelajar tidak malu ketika membeli sesuatu di pasar tradisional, namun kini harus di mall atau super market. Selain itu budaya shopping juga merambah pada generasi muda sejak anak-anak. Fashion atau busana juga serba tidak karuan, pelajar sudah mulai kehilangan identitasnya. Yang mengerikan lagi, murid atau pelajar Muhammadiyah diwajibkan mengenakan jilbab di sekolah, namun setelah keluar dari linggungan sekolah mereka langsung lepas jilbab. Makanan yang dikonsumsi pun berimbang dengan gaya hidup mereka, serba mewah, serba instant dan serba made in luar negeri.
2.Perkembangan Teknologi Tidak Diimbangi dengan Pendidikan Moral
Arus perkembangan teknologi tidak dapat dibendung lagi, karena tanpa adanya perkembangan teknologi berarti peradaban manusia tidak berkembang atau stagnan. Namun perkembangan ternologi tanpa diimbangi dengan peningkatan pendidikan moral, intelektual dan agama tentu akan terjadi ketimpangan. Seperti perkembangan handphone yang begitu pesat dengan berbagai fiture dan fasilitas baik itu kamera, bloothut maupun video sering disalahgunakan untuk hal-hal yang bertolak belakan dengan budaya dan moralitas. Makin meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar merupakan imbas dari video mesum dari HP ke HP. Internet juga menjadi penyumbang yang cukup besar dalam membobrokkan generasi muda, memang banyak keuntungan yang diperoleh dari internet tetapi lagi-lagi kemampuan moral generasi muda kita belum bisa memproteksi suguhan serba syur di dunia maya tersebut.
3.Penjajahan Budaya (cultural imperialism)
Dibukanya era perdagangan bebas ternyata sangat berpengaruh pada globalisasi budaya, termasuk di Indonesia. Namun hal ini tidak dibarengi dengan filterisasi budaya barat yang masuk, alhasil hampir separuh budaya Indonesia tergeser, termarginalkan dan akhirnya hilang. Sampai-sampai banyak generasi muda yang tidak bangga dengan budayanya sendiri. Coba kita lihat betapa hebohnya perayaan tahun baru Masehi (1 Januari), sedangkan tahun baru Hijiriyah (1 Muharram) hampir hanya orang-orang tua yang merayakan. Hal lain yang mulai membudaya pada generasi muda Islam adalah perayaan Valentine Day yang tidak jelas juntrungnya. Penjajahan budaya ini sangat kentara sekali di kalangan pelajar kita, dari yang dulu tabu kini menjadi biasa seperti pacaran tanpa sex itu hampa. Padahal Allah swt telah memperingatkan manusia untuk tidak mendekati zina. Mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukannya. Alih-alih pemerintah melakukan penanggulangan, malah beberapa waktu lalu disediakan ATM kondom yang katanya untuk menanggulahi HIV AIDS dan PMS lainnya. Padahal secara tidak langsung dengan disediakannya ATM kondom tersebut pemerintah telah melegalkan seks bebas. Na’udzubillah....bahkan pemerintah sekalipun ikut andil dalam meruntuhkan bangunan moral generasi muda.
Kampus terbuka (pendidikan tidak terarah)
4.Kemiskinan dan Imperialisme modern
Dimanapun manusia berada, kemiskinan pasti menjadi hantu yang sangat menakutkan. Kemiskinan akan berakibat pada ketidakmampuan untuk mengenyam pendidikan, kemudian generasi akan menjadi bodoh, selain itu pemenuhan gizi terhambat, mudah terjangkit penyakit, dan berakhir pada tindakan nekat untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya, seperti premanisme, pencurian, perampokan dan lain-lain. Memang antara kemiskinan, pendidikan, dan kejahatan seperli lingkaran syetan yang tidak terpisahkan. Hal ini dibentuk oleh kaum kapitalis atau imperialisme modern yang menyerang bangsa ini dari sektor ekonomi. Masyarakat dibodohkan dan sistem ekonomi dimonopoli oleh orang-orang kuat.
Minggu, 07 Maret 2010
kata pengantar
ISMILAHIRRAHMANIRRAHIM,
Segala puji bagi Allah dengan pujian seorang hamba yang bersabar tatkala Allah azza wajalla menganugrahkan nikmat kepanaya, shalawat dan shalam semoga tetap allah curahkan kepada Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, manusia terbaik sepanjang zaman, kepada keluarga beliau, para sahabatbya dan mereka yang meniti dijalannya hingga kebangkitan tiba.
Allah telah mengutus Rasulullah salallahu’alaihi wasallam di Makah untuk menyerukan Islam kepada seluruh manusia, untuk mengelurakan mereka dari kegelapan menuju terangnya cahaya. Rasulullah salallahu’alaihi wasallam mengawali seruan terhadap manusia secara individual, kemudian secara berjamaah setelah tiga tahun berdakwah, setelah Rabb-Nya memerintahkan :
“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala aa yang diperintahkan
( kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ( QS. Al-Hijr : 94 )
Beliau juga mulai menyeru kerabat dekatnya ;
“ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat “
( QS. As-Syuara : 214 )
Hal inlah yang menjadikan sekelompok pelajar dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah mempunyai kewajiban untuk tatap berjuang menegakkan sendi-sendi ajaran Ilahi Robbi Allah azza wajalla. Dengan megerahkan segala daya upayanya yakin mampu menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan pelajar.
Sebagai ortom sekaligus generasi penerus Muhammadiyah, IPM sudah sudah seharusnya menghidupkan kembali refleksi kritis yang pernah dilakukan kiai Dahlan, untuk selanjutnya melakukan apa yang dalam Islam Transformatif disebut dengan “rasionalisasi hidup”, sehingga orientasi gerakan IPM tertuju pada perang melawan “kemungkaran dan kedzaliman sosial” yang telah menyengsarakan kaum mustadl’afin. Barangkali, term-term seperti mustadl’afin, anak yatim, dsb, perlu diperluas maknanya, sehingga tidak hanya bermakna orang-orang lemah saja, tetapi juga mencakup “new proletariat”, seperti kuli pabrik, buruh bangunan, petani dan kaum tertindas lain yang saat ini jumlahnya makin membludak. Begitu juga dengan term-term seperti Fir’aun dan Qorun yang sebelumnya tidak lebih dari sebuah nama tokoh antagonitik dalam sejarah Islam. Kesemuanya itu harus diidentifikasi kembali sebagai kelas dan sekaligus sistem yang menindas.
Diakui atau tidak, bahwa dakwah kita selama ini masih jauh dari harapan. Bahkan dalam tingkat tertentu malah membuat umat (remaja/pelajar) “tidur pulas” terhipnotis oleh janji-janji yang membuat pikiran melayang tinggi ke langit bahkan ke syurga, sehingga lupa akan kewajiban sebagai kholifah fil ardl, tidak peka terhadap masalah-masalah sosial di lingkungan sekitar, apalagi praktik-praktik ibadah sudah terjebak ke dalam simbol-simbol ritual semata.
Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana metode dakwah yang tepat dan efektif untuk mengatasi permasalahan di atas ?
Sudah saatnya, IPM tidak berkutat pada persoalan-persoalan klasik, seperti menilai murni tidaknya Islam seseorang. Sebagai makna baru ber-IPM, IPM harus mulai merespon isu-isu aktual, seperti pilkada, HIV / AIDS, pendidikan murah berkualitas, eksploitasi remaja, lingkungan hidup, good governance (anti korupsi, dsb) dan isu-isu kemanusiaan lainnya, untuk kemudian ditindaklanjuti di tingkat lokal dan akar rumput (grass roots).
Oleh karena itu, kita membutuhkan metode dakwah yang efektif, selain langsung menuju ke pusat permasalahan yang dihadapi remaja dan pelajar, juga mampu melakukan rekayasa sosial, sehingga “penyakit” yang diderita remaja dan pelajar dapat teridentifikasi dengan jelas, untuk kemudian dapat diberikan “obat” yang cocok dan manjur.
Semoga apa yang tertuang dalam karya ini dapat menjadikan dakwah IPM semakin menjadikan dampak perubahan yang lebih baik di kalangn pelajar. Amiin
Segala puji bagi Allah dengan pujian seorang hamba yang bersabar tatkala Allah azza wajalla menganugrahkan nikmat kepanaya, shalawat dan shalam semoga tetap allah curahkan kepada Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, manusia terbaik sepanjang zaman, kepada keluarga beliau, para sahabatbya dan mereka yang meniti dijalannya hingga kebangkitan tiba.
Allah telah mengutus Rasulullah salallahu’alaihi wasallam di Makah untuk menyerukan Islam kepada seluruh manusia, untuk mengelurakan mereka dari kegelapan menuju terangnya cahaya. Rasulullah salallahu’alaihi wasallam mengawali seruan terhadap manusia secara individual, kemudian secara berjamaah setelah tiga tahun berdakwah, setelah Rabb-Nya memerintahkan :
“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala aa yang diperintahkan
( kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ( QS. Al-Hijr : 94 )
Beliau juga mulai menyeru kerabat dekatnya ;
“ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat “
( QS. As-Syuara : 214 )
Hal inlah yang menjadikan sekelompok pelajar dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah mempunyai kewajiban untuk tatap berjuang menegakkan sendi-sendi ajaran Ilahi Robbi Allah azza wajalla. Dengan megerahkan segala daya upayanya yakin mampu menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan pelajar.
Sebagai ortom sekaligus generasi penerus Muhammadiyah, IPM sudah sudah seharusnya menghidupkan kembali refleksi kritis yang pernah dilakukan kiai Dahlan, untuk selanjutnya melakukan apa yang dalam Islam Transformatif disebut dengan “rasionalisasi hidup”, sehingga orientasi gerakan IPM tertuju pada perang melawan “kemungkaran dan kedzaliman sosial” yang telah menyengsarakan kaum mustadl’afin. Barangkali, term-term seperti mustadl’afin, anak yatim, dsb, perlu diperluas maknanya, sehingga tidak hanya bermakna orang-orang lemah saja, tetapi juga mencakup “new proletariat”, seperti kuli pabrik, buruh bangunan, petani dan kaum tertindas lain yang saat ini jumlahnya makin membludak. Begitu juga dengan term-term seperti Fir’aun dan Qorun yang sebelumnya tidak lebih dari sebuah nama tokoh antagonitik dalam sejarah Islam. Kesemuanya itu harus diidentifikasi kembali sebagai kelas dan sekaligus sistem yang menindas.
Diakui atau tidak, bahwa dakwah kita selama ini masih jauh dari harapan. Bahkan dalam tingkat tertentu malah membuat umat (remaja/pelajar) “tidur pulas” terhipnotis oleh janji-janji yang membuat pikiran melayang tinggi ke langit bahkan ke syurga, sehingga lupa akan kewajiban sebagai kholifah fil ardl, tidak peka terhadap masalah-masalah sosial di lingkungan sekitar, apalagi praktik-praktik ibadah sudah terjebak ke dalam simbol-simbol ritual semata.
Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana metode dakwah yang tepat dan efektif untuk mengatasi permasalahan di atas ?
Sudah saatnya, IPM tidak berkutat pada persoalan-persoalan klasik, seperti menilai murni tidaknya Islam seseorang. Sebagai makna baru ber-IPM, IPM harus mulai merespon isu-isu aktual, seperti pilkada, HIV / AIDS, pendidikan murah berkualitas, eksploitasi remaja, lingkungan hidup, good governance (anti korupsi, dsb) dan isu-isu kemanusiaan lainnya, untuk kemudian ditindaklanjuti di tingkat lokal dan akar rumput (grass roots).
Oleh karena itu, kita membutuhkan metode dakwah yang efektif, selain langsung menuju ke pusat permasalahan yang dihadapi remaja dan pelajar, juga mampu melakukan rekayasa sosial, sehingga “penyakit” yang diderita remaja dan pelajar dapat teridentifikasi dengan jelas, untuk kemudian dapat diberikan “obat” yang cocok dan manjur.
Semoga apa yang tertuang dalam karya ini dapat menjadikan dakwah IPM semakin menjadikan dampak perubahan yang lebih baik di kalangn pelajar. Amiin
Langganan:
Komentar (Atom)
