Minggu, 07 Maret 2010

kata pengantar

ISMILAHIRRAHMANIRRAHIM,


Segala puji bagi Allah dengan pujian seorang hamba yang bersabar tatkala Allah azza wajalla menganugrahkan nikmat kepanaya, shalawat dan shalam semoga tetap allah curahkan kepada Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, manusia terbaik sepanjang zaman, kepada keluarga beliau, para sahabatbya dan mereka yang meniti dijalannya hingga kebangkitan tiba.
Allah telah mengutus Rasulullah salallahu’alaihi wasallam di Makah untuk menyerukan Islam kepada seluruh manusia, untuk mengelurakan mereka dari kegelapan menuju terangnya cahaya. Rasulullah salallahu’alaihi wasallam mengawali seruan terhadap manusia secara individual, kemudian secara berjamaah setelah tiga tahun berdakwah, setelah Rabb-Nya memerintahkan :

“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala aa yang diperintahkan
( kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ( QS. Al-Hijr : 94 )

Beliau juga mulai menyeru kerabat dekatnya ;

“ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat “
( QS. As-Syuara : 214 )

Hal inlah yang menjadikan sekelompok pelajar dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah mempunyai kewajiban untuk tatap berjuang menegakkan sendi-sendi ajaran Ilahi Robbi Allah azza wajalla. Dengan megerahkan segala daya upayanya yakin mampu menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan pelajar.
Sebagai ortom sekaligus generasi penerus Muhammadiyah, IPM sudah sudah seharusnya menghidupkan kembali refleksi kritis yang pernah dilakukan kiai Dahlan, untuk selanjutnya melakukan apa yang dalam Islam Transformatif disebut dengan “rasionalisasi hidup”, sehingga orientasi gerakan IPM tertuju pada perang melawan “kemungkaran dan kedzaliman sosial” yang telah menyengsarakan kaum mustadl’afin. Barangkali, term-term seperti mustadl’afin, anak yatim, dsb, perlu diperluas maknanya, sehingga tidak hanya bermakna orang-orang lemah saja, tetapi juga mencakup “new proletariat”, seperti kuli pabrik, buruh bangunan, petani dan kaum tertindas lain yang saat ini jumlahnya makin membludak. Begitu juga dengan term-term seperti Fir’aun dan Qorun yang sebelumnya tidak lebih dari sebuah nama tokoh antagonitik dalam sejarah Islam. Kesemuanya itu harus diidentifikasi kembali sebagai kelas dan sekaligus sistem yang menindas.
Diakui atau tidak, bahwa dakwah kita selama ini masih jauh dari harapan. Bahkan dalam tingkat tertentu malah membuat umat (remaja/pelajar) “tidur pulas” terhipnotis oleh janji-janji yang membuat pikiran melayang tinggi ke langit bahkan ke syurga, sehingga lupa akan kewajiban sebagai kholifah fil ardl, tidak peka terhadap masalah-masalah sosial di lingkungan sekitar, apalagi praktik-praktik ibadah sudah terjebak ke dalam simbol-simbol ritual semata.
Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana metode dakwah yang tepat dan efektif untuk mengatasi permasalahan di atas ?
Sudah saatnya, IPM tidak berkutat pada persoalan-persoalan klasik, seperti menilai murni tidaknya Islam seseorang. Sebagai makna baru ber-IPM, IPM harus mulai merespon isu-isu aktual, seperti pilkada, HIV / AIDS, pendidikan murah berkualitas, eksploitasi remaja, lingkungan hidup, good governance (anti korupsi, dsb) dan isu-isu kemanusiaan lainnya, untuk kemudian ditindaklanjuti di tingkat lokal dan akar rumput (grass roots).
Oleh karena itu, kita membutuhkan metode dakwah yang efektif, selain langsung menuju ke pusat permasalahan yang dihadapi remaja dan pelajar, juga mampu melakukan rekayasa sosial, sehingga “penyakit” yang diderita remaja dan pelajar dapat teridentifikasi dengan jelas, untuk kemudian dapat diberikan “obat” yang cocok dan manjur.
Semoga apa yang tertuang dalam karya ini dapat menjadikan dakwah IPM semakin menjadikan dampak perubahan yang lebih baik di kalangn pelajar. Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar