5.3. TUJUAN DAKWAH
Pada hakekatnya tujuan dakwah adalah untuk merubah situasi – keadaan manusia baik perseorangan maupun kelompok , khususnya dunia pelajar – dari situasi kehidupan yang tanpa moral menjadi situasi penuh akhlaqul karimah, dari suasana jahiliyah menuju suasana tauhid, sehingga kehidupannya mencerminkan pola hidup yang seimbang antara domensi hubungan dengan Allah sebagai pencipta dan hubungan dengan manusia dan alam semesta sebagai sesama ciptaan-Nya.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ(112)
“Mereka itu ditimpa bencana kehidupan dimana saja mereka berada , kecuali dengan tali (Agama) Allah dan tali (perdamaian) manusia ; dan mereka kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah serta ditimpa kemiskinan . Demikian itu, karena mereka kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa kebenaran. Demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas”. (Q.S. Ali Imran : 112 )
“Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah kejelekan dengan amal yang baik sehingga amal kebaikan itu akan menghapus dosa kejelekan , serta pergaulilah manusia dengan akhlak pergaulan yang baik “. (H.R. Ath Thabrany dari Abi Dzar)
Dakwah juga bertujuan merubah keadaan serba sekuler dan materialistis menuju keadaan Islami yang penuh ridla Allah Swt. Dari suasana kepelajaran yang gelap menuju terang benderang . Disamping sudah barang tentu merupakan upaya menghidupkan dan menyempurnakan kualitas kemanusiaan.
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ(1)
“Alif laam raa. (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Ibrahim : 1).
قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ(24)
“Wahai orang yang beriman, sambutlah panggilan Allah dan Rasul-Nya apabila ia memanggil kamu kepada apa-apa yang menghidupkan kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. Al Anfaal : 24 ) .
Dengan memperhatikan seruan Allah dan Rasul-Nya ( Muhammad Saw) , yang kemudian dengan penuh kesadaran mengamalkannya, maka para pelajar dan umat pada umumnya diharapkan dapat memenuhi fungsi hidup yang sebenarnya, mengabdi kepada Allah semata.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56) .
Mereka itu “orang-orang besar” , penuh kebaikan . Dengan ciri khusus : berakhlak mulia dan bermanfa’at bagi sesama pelajar dan masyarakatnya.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(13)
Hai manusia, sesungguhnya kami menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu berkenal-kenalan . Sesungguhnya orang yang termulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa . Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al Hujurat :13) .
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik (mulia) akhlaknya”.
(H.R. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi ) .
خير الناس أنفئهم للناس
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat (berjasa) bagi sesamanya “ . (H.R. Jaabir) .
5.4. LINGKUNGAN DAKWAH
Profil pelajar dan masyarakat yang telah memenuhi fungsi hidup secara benar, merupakan sosok pelajar dan masyarakat yang mempunyai corak kepribadian (Sibghah) yang khas, berwujud kepribadian Islam dan masyarakat Islam . Sebuah kepribadian yang terpilih dan masyarakat yang utama. Itu karena sikap berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar telah menjadi budaya pelajar tersebut, perseorangan maupun kolektif.
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ(138)
“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah ? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah”.
(Q.S. Al Baqarah : 138 ).
Pribadi demikian, bila mendapatkan tantangan akan menyambutnya dengan jiwa yang tenang. Bagi mereka tantangan justru semakin memperteguh iman dan keta’atan.
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا(22)
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya , yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” . (Q.S. Al-Ahzab : 22 ) .
Karakteristik pribadi pilihan ini, dengan jelas telah digambarkan oleh Allah dan Rasul-Nya . Bagaimana menghadapi musuh dalam medan juang, bagaimana melihat persoalan hidup dan mati, dan bagaimana seharusnya menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Apapun persoalannya, tidak akan menjadikan mereka mundur kalau Aqidah dan Agama Allah menjadi taruhannya, sekalipun itu harus ditegaskan dihadapan seorang penguasa yang lalim.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى(13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا(14)
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhannya. Dan kami beri tambahan petunjuk kepadanya . Dan Kami telah meneguhkan hati (keimanan) mereka tatkala mereka berdiri (di hadapan Raja Dikyanus yang kejam itu) lalu mereka itu berkata : “Tuhan kami adalah Tuhan (yang menciptakan) ruang angkasa dan bumi , Kami sekali-kali tidak menyeru (menyembah) Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kami (jika melakukan yang demikian) sudah mengucapkan perkataan yang jauh menyimpang dari kebenaran.”
(Q.S. Al Kahfi ayat 13-14 )
Namun juga tidak lupa daratan , jika mendapatkan kemenangan. Karena kemenangan baginya adalah kemenangan tauhid atas syirik, kemenangan yang haq atas yang bathil, kemenangan “Kalimatullah” atas thaghut, kemenangan Islam atas ideologi , isme dan ajaran-ajaran lain.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya , Dia adalah Maha Penerima Taubat”.
(Q.S.Al-Nashr : 1-3).
Dari pribadi-pribadi yang telah mencapai fungsinya tersebut , memungkinkan dibangun suatu ummat dan lingkungan dakwah yang memiliki corak tersendiri.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi mereka berkasih sayang sesamanya. Kamu lihat, mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaannya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat , lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjadikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan ‘amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Q.S. Al Fath : 29).
Sebuah lingkungan dakwah , yang laksana bangunan indah lagi kokoh, dimana bagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan.
“Orang Mukmin satu dengan yang lain itu laksana bangunan yang kokoh dimana bagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan”.
(H.R. Syaikhoni dari Abu Musa).
Lingkungan dakwah semacam itu, senantiasa menumbuhkan kesadaran akan posisi pelajar dan ummat Islam umumnya secara pribadi maupun sebagai kelompok di hadapan Allah, sehingga dimungkinkan tumbuhnya manusia-manusia pilihan, pelajar-pelajar teladan dan umat yang berkeseimbangan , yang senantiasa menegakkan keadilan dengan berpedoman pada “Risalah” .
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(143)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (Umat Islam) , umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Q.S. Al-Baqarah : 143).
5.5 TANTANGAN DAKWAH
Kehidupan dakwah, tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, baik dari dalam maupun dari luar, sebagai makhluk dakwah apapun tantangannya seorang pelajar harus siap menghadapi. Dalam hal ini ketangguhan, kesabaran, ketrampilan, dan kedisplinan kelompok atau jamaah yang tangguh sangat dituntut.
الم(1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ(3)
“Alif laam miim. Adakah manusia mengira, bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata: “Kami telah beriman, tanpa mereka mendapat cobaan. Sungguh telah kami coba orang-orang sebelum mereka supaya Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar dan mengetahui orang-orang yang dusta (dengan terang dan nyata)”Q.S Al-Ankabut: 1-3
Dengan kesadaran yang sangat mendalam, sebagai jundu Allah ( tentara Allah) kita harus siap dengan cobaan yang akan dihadapi. Cobaan tidak hanya dari luar, dari dalam keluarga pun akan terjadi.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(14)
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S Attaghobun: 14)
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ(120)
“Orang-orang yahudi dan nasrani tiada suka kepadamu, kecuali jika kamu turut kepada mereka. Katakanlah, sesungguhnya, petunjuk Allah adalah sebenarnya petunjuk. Sungguh, jika kamu mendapat pengetahuan, tak ada lagi wali dan penolongmu dari (siksa) Allah” (QS.Al-Baqoroh:120)
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ(61) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ(62)
“Tiadalah Aku janjikan kepadamu,hai anak Adam, bahwa janganlah kamu sembah syethan, karena ia musuh nyata bagimu, Kamu sembahlah Aku (Allah)! Inilah jalan yang lurus, Sesungguhnya syethan itu menyesatkan banyak makhluk diantara kamu, tiadalah kamu memikirkan? (QS Yasiin: 60-62)
Di dalam menghadapi cobaan, Allah dengan tegas memberikan deskripsi sikap kepada hamba-Nya, Agar mereka tidak terlena dan putus asa dalam menghadapinya.
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ(35)
“Maka sabarlah kamu (Muhammad), sebagaimana telah sabar orang-orang yang mempunyai kemauan di atara rasul-rasul, dan janganlah kamu minta disegerakan (siksa) untuk mereka. Seolah-olah mereka pada hari (siksa) yang dijanjikan kepada mereka, tiada diam (di dunia), melainkan sesaat dari siang hari. (Inilah) yang disampaikan (kepada mereka), kecuali kaum yang fasik”. (QS Al-Ahqaf: 35)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا(71)
“Hai orang-orang yang beriman, waspadalah kamu (terhadap musuhmu) dan keluarlah kamu (memerangi mereka) dengan berpasukan-pasukan atau keluarlah kamu dengan satu kelompok” (QS. Annisa: 71)
Seiring perkembangan zaman maka cobaan pun semakin meluas, baik meliputi tantangan masa depan maupun tantangan ilmu pengetahuan yang membutuhkan perhatian, oleh sebab itu, sudah semestinya jika pelajar-pelajar Islam harus membekali dirinya dengan kekuatan ilmu (quwatul ilmi).
يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ(33)
“Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu kuasa menembus jurusan-jurusan langit dan bumi, tembuslah! (akan tetapi) kamu tidak akan menembusnya, kecuali dengan kekuatan” (QS Ar-rahman:33)
Dalam memperoleh kekuatan guna menghadapi dan mengatasi berbagai cobaan dan tantangan, Allah pun memberikan Irsyadah (petunjuk) kepada hamba-Nya
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا(78)وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا(80)
”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula sholat Subuh. Sesungguhnya sholat Subuh disaksikan ( oleh Malaikat). Dan pada sebagian malam hari, sembahyang tahajjud sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji.
Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan berikanlah dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”
(QS Al-Isro: 78-80)
Senin, 08 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar