Senin, 08 Maret 2010

metode dakwah

5.6 METODE DAKWAH
Dalam melakukan dakwah, terutama bagi pelajar, ada beberapa metode yang dapat dipertimbangkan. Namun pada prinsipnya dakwah hendaklah disesuaikan dengan kapasitas berfikir obyek dakwah.
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)
“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bertukar fikirlah dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya tuhanmu lebih mengetahui siapa yang terpimpin”( QS An-nahl: 125 )

“Kami diperintahkan supaya berbicara (berdakwah) kepada manusia menurut kadar akal kecerdasan mereka masing-masing” (HR Muslim).

Kandungan Firman Allah di atas memberikan deskripsi (gambaran) tentang shiagu ad-dakwah (bentuk dakwah) yang mutanawiah (bermacam-macam), sebagai berikut:
USLUUB ( GAYA )
ARAHAN

HIKMAH

الحكمة



Mauidhatul Hasanah
موعظة الحسنة





Mujadalah Billati Hiya Ahsan
مجدلة
Golongan pelajar, masyarakat cendekiawan, cinta kepada kebenaran, berfikir secara kritis, cepat dan dapat menangkap arti persoalan
Didasarkan pada alasan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal

Golongan pelajar , masyarakat awam, belum dapat berfikir secara kritis, belum dapat menangkap pengertian yang tinggi dari persoalan.
Berupa anjuran dan didikan yang baik-baik dengan ajaran-ajaran yang mudah difahami



Golongan pelajar dan masyarakat yang tingkat kecerdasannya tidak dicapai dengan kedua gaya di atas.
Berupa bertukar fikiran guna mendorong mereka agar dapat berfikir secara sehat dan baik


Shigotul ukhro:
صيغة الأخر
Uswatun Hasanah
ءسوة الحسنة
Lisanul Haal
لسان الحال




Menjadi teladan atau contoh bagi masyarakat dan pelajar
Berupa jujur, sopan. amanah
Ucapan yang langsung diterapkan dengan kerja
Bentuknya: Tidak akan berbunyi, “ Kamu harus mengerjakan ini dan itu!. Tetapi akan berbunyi,
“ Mari kita bersama-sama melakukan ini, dan aku memulainya”


Metode dakwah tersebut, dapat dilakukan binafsi (sendiri) atau jamaah (kelompok). Firman Allah Dalam QS As-Saba’: 46,
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
“…Hanya satu (perkara) yang hendak ku-wasiatkan kepadamu, (yaitu) supaya engkau menegakkan agama Allah, berdua-dua atau sendiri sebatangkara…”

Dalam dakwah, hendaklah dilakukan dengan penuh semangat dan kesungguhan hati, tanpa menghiraukan berat-ringannya medan.
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(41)
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.At-taubah: 41)

Agar pesan dakwah yang disampaikan selalu aktual dan dapat memberi kejelasan akan pengertian Islam yang benar, sehingga dapat menjadi Syifa (obat) bagi jamaah yang tengah membutuhkan penawar, penyejuk hati dan pelita hidup di tengah perkembangan zaman, maka setiap pelajar (Jundi IPM) dan Umat Islam pada umumnya sebagai subjek dakwah dituntut untuk senantiasa memperdalam pengetahuan dan melengkapi keterampilannya dalam berdakwah fi sabilillah. Dengan demikian diharapkan dalam menjalankan amalu ad-dakwah (tugas dakwah),dapat benar-benar mampu menyampaikan pesan-pesan Islam kepada objek dakwah dengan penuh kebijaksanaan dan keberanian.
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ(108)
“Katakanlah, inilah jalan (agama)ku. Aku dan umat yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (keterangan) yang nyata. Dan Maha Suci Allah, dan aku bukanlah orang yang menyekutukan-Nya” (QS Yusuf: 108 )

Berdakwah merupakan tugas yang sangat mulia, tetapi dakwah tidak akan berjalan (stagnan) jika tidak ada sarana dan sistem (metodologi) yang yang mendukungnya. Selain kedua hal di atas dakwah juga didukung dengan situasi yang mendukungnya. Anis matta (Menikmati Demokrasi. 2002: 2) menyebutnya sebagai majelis ilmu, artinya dalam melakukan dakwah kita harus memperhatikan keimanan dan keilmuan sebagai modal untuk kekuatan dan keberhasilan dalam berdakwah yaitu dengan mengadakan kelompok-kelompok kecil untuk menambah keilmuan dan ketaqwaan.
Sesungguhnya, bukan hanya kita, para da'i, yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun memiliki kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnya penghentian. Tapi, sahabat-sahabat Rosulullah yaitu generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan kaenanya behak meletakan kaidah-kaidah dakwah- menyebutnya majelis Iman. Maka Ibnu Mas'ud bekata, " Duduklah besama kami, biar kita beiman sejenak"
Majelis iman diperlukan untuk beberapa hal. Pertama; untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah seta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbaharuidan mempertajam orientasi kita;melakukan penyelarasan dan penyeimbang berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal,dan target-targe yang dapat kita raih.
Kedua, untukmengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang hendak diraih dalam upaya ini adalah; memperbaharui komitmen dan janjisetia kita kepada Allah SWT. bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu; bahwa kita akan setia memikul baban amanahdakwah ini; bahwa kita akan tetaptegar menghadapi semua tantangan;bahwa yang kita harap darisemuaini hayalar ridhoNya.
Maka majelis Iman adalah tempat kita berkumpul untuk mengisi hati dengan energi yang teripta dari kesadaran baru, semangat baru, tekad baru, harapan baru, dan keberanian baru.
Karena itu,majelis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudahmaki jauh, yaitu:
1.Tahap demi tahap dari keselruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategi dakwah perlahan-lahan kita lalui. Dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan jundiyah dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayaan kembali, kemudian melakukan mobilisasi social untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit. Maka dibutuhkan sarana untuk melakukan mobilisasi.
2.Kita hidup disebuah masyarakat yang tidak stabil atau heterogen. Perubahan-perubahan besar dilingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan apa yang dituntut dari kita, kaum da'I adalah melakukan pengadaptasiaan, penyelarasaan, dan penyeimbang, dan pada waku yang sama meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum.
3.Adanya seleksi dari Allah SWT. secara kontinyu sehingga banyak duat yang berguguran, juga banyak yang berjalan tertatih-tatih.

Majelis iman harus kita lakukan untuk mengukuhkan sebuah wacana bagi proses penerahan pikiran , penguatan kesadaran, penjernihan jiwa, dan semangat berjuang (jihad). Inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini. Di saat besamaan hal ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkat individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, danaktual disamping kebiasaan muhasabah, memperbaharui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, seta memlihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam mejelis iman untuk kita bagikepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif, semangat idividu menyatu dalam semangat koektif, dan kreativitas individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar