A.Dasar Pemikiran Panduan Dakwah IPM
IPM memperteguh diri untuk menjadi salah satu pilar penopang persyarikatan Muhammadiyah dengan cara menterjemahkan visi amar makruf nahi munkar ke dalam tujuan ikatan, yaitu terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (pasal 6 maksud dan tujuan IPM pada Anggaran Dasar IPM)
Kesadaran untuk membangun masyarakat utama bukanlah perkara yang mudah, masyarakat utama yang oleh banyak kalangan diterjemahkan sebagai masyarakat madani (civil society) pada dasarnya tidak bisa hanya dibangun dengan semangat menjadi orang muslim yang berahklak mulai saja. Namun, terdapat banyak varian yang saling berkait-kaitan yang menopang sebuah bangunan masyarakat madani. Oleh IPM, pengertian masyarakat madani, terutama di komunitas pelajar, seharusnya dipahami sebagai suatu upaya untuk mananamkan kesadaran beragama yang fitri, sehingga beragama tidak secara taqlid (ikut-ikutan) dan tradisi tetap beragama secara autentik (asli), benar-benar terbebaskan dari konteks sejarah yang merupakan cerminan dari wacana agama dan politik disuatu masa, dengan berbagai benturan tujuan sosial politiknya, memperteguh keimanan mengembangkan kepekaan sosio-historis atas fenomena zaman dan mengasah ketajaman nalar kritis dan mempertinggi akhlak yang berarti membangun nilai yang berorientasi sosial, inklusif dan ilahi ta’ala dari ibadah. Dan intisari dari semua itu adalah kesadaran untuk menjadi insan yang bertauhid (dalam artian manusia yang merdeka)
Dalam rangka itu, oleh bidang Kajian dan Dakwah Islam pada dasarnya dakwah diartikan sebagai upaya pengintegrasian/ penyatuan sistem budaya dengan sistem sosial, baik pada tataran teoritik maupun dalam tataran empirik. Islam sebagai sebuah grand design mengintegrasikan kedua sistem itu dalam kesatuan dan konsentrasi. Sistem budaya yang dimaksud adalah integarsi logis-maknawi yaitu kesatuan nilai, kepercayaan dan pemikiran yang memberi arah kepada perbuatan, menginterpretasikan pengalaman dan membuat hidup bermakna, karena ada kesatuan dan konsistensi. Disinilah letak cita-cita budaya dan ideologi, serta etos intelektual yang akan dibangun oleh IPM. Sedangkan sistem sosial yang dimaksud adalah integrasi kausal-fungsional yaitu kaitan sebab dan akibat, kondisi dan konsekuenis serta tujuan dan fungsi. Pada sistem inilah kita membangun motodologi, konsep dasar ikatan dan beragam tawaran dakwah khusus-alternatif.
Bidang Kajian dan Dakwah Islam berorientasikan pada penanaman nilai-nilai ajaran Islam secara kritis, sehingga dapat membangun identitas pelajar muslim yang memiliki akhlak karimah yang berhubungan erat dengat visi keilmuan dan visi moralitas spiritual. Visi keilmuan yang dimaksud yaitu membuka sebuah ruang pembebasan akal bagui komunitas pelajar untuk secara bersama-sama membangun kesadaran kritis atas khazanah keislaman, melakukan kajian-kajian intensif atas beragam persoalan keislaman dan keummatan. Sedangkan visi moralitas yang dikedepankan adalah suatu upaya untuk menginternalisasikan sutau kesatuan cita-cita moral, nilai dan sikap, penyucian hati untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Dua orientasi dakwah ini tidak terlepas dari kondisi obyektif yang ada yaitu :
1.Faktor Internal
Pertama, IPM memiliki tujuan terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kedua, adanya semacam gejala ketidakseimbangan antar aspek pikir dan zikir - akal dan hati- dikalangan ikatan. Atas dasar kondisi obyektif ini IPM khususnya bidang kajian dan dakwah islam menghendaki terciptanya kader ikatan yang utuh, ememilki keseimbangan anatara aspek pikir dan zikir (akal dan hati)
2.Faktor Eksternal
IPM menghendaki terciptanya suasana kedamaian (salam) dan keadilan sebagai intisari dari islam, dalam kehidupan kemanusiaan yang didasari dari budaya IPM yakni kritis, peduli pada ketidakadilan dan transformatif yang beroientasi pada perubahan yang lebih baik dan dinamis
3.Visi Keislaman Pelajar Muhammadiyah
a.Ketauhidan yaitu terciptanya internalisasi nilai-nilai ketuhanan ke dalam pribadi manusia dalam rangka mencari kebenaran (atau bermujahadah), yaitu usaha menumbuhkan etos iman yang kreatif dalam rangka mencari kebenaran sebagai sesuatu yang fitri. (QS. Al-Ikhlash: 1-4)
b.Pembebasan (liberatif), yaitu bahwa syahadah dalam terminologi dan kerangka berpikir muslim merupakan pernyataan yang bermula dengan menafikan lalu dititik puncaknya adalah penisbahan (laa ilaaha illalah)
c.Pemanusiaan (humanizing) yaitu bahwa prinsip dasar dari sebuah seruan moral adalah usaha untuk mengaktualkan potensi fitrah manusia. Dengan pijakan gerak ini maka usaha dakwah diarahkan pada sisi esoterik (bathin) guna menggugah kesadaran primordial ilahiah
d.Perubahan (transformatif) yaitu bahwa pemaknaan –pemaknaan terhadap teks harus diiringi dengan pemahaman terhadap konteks, sehingga teks-teks alquran tidak hanya menjadi bacaan yang menambah kesalehan individual saja namun lebih dari itu mampu melakukan rekayasa sosial.
e.Toleransi (tasamuh) yaitu bahwa prinsip dasar yang harus dipenuhi dari kehidupan yang sangat pluralistik dan beraneka ragam adalah sikap toleransi atas perbedaan yang ada.
f.Keadilan (al-‘adalah) yaitu menyadari sepenuhnya bahwa nilai keadilan adalah merupakan suatu nilai yang harus ditegakkan dalam misi kekhalifahan manusia di muka bumi demi terciptanya kesejahtreraan sosial.
g.Kemajuan (progresif) yaitu mampu mendorong setiap orang untuk mengembangkan dan meningkatkan diri dan keadaannya ke kondisi yang lebih baik atau memberi kebebasan kepada manusia untuk mengembangkan dirinya dan keadaannya.
h.Pemberdayaan (advokatif) yaitu mampu mendorong setiap orang untuk melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap setiap haknya.
i.Persaudaraan (ukhuwah) yaitu bahwa kader IPM sebagai manusia yang beriman harus mampu menjaga ikatan – ikatan persaudaraan sebagai hubungan kemanusiaan baik itu dalam ikatan maupun keseluruhan umat manusia
4.Misi Keislaman Pelajar Muhammadiyah
Pertama, pembebasan akal, indikasi dari kader ikatan yang mempunyai akal dan pikiran yang tercerahkan dan bebas adalah tentunya kader yang merdeka dari taqlid dan tradisi serta berani dalam dialektika pikir.
Usaha yang ditempuh dalam misi ini adalah dengan menata pola pikir yang didukung oleh pengetahuan dan pemahaman logika, analisa sosial (ansos) dan pemahaman keislaman yang bersifat integralistik (menyatu)
Kedua, adalah pencerahan hati, indikasi dari kader yang mempunyai hati bersih dan suci adalah mempunyai sifat berpandangan baik (positif thingking/ huznuzon) terhadap sesuatu masalah apapun dan mempunyai sifat kelapangan hati serta sifat peka sosial (peduli) sebagai sifat dasar dari kemsnuiaan itu sendiri.
5.Strategi Gerakan Keislaman Pelajar Muhammadiyah
IPM adalah gerakan Islam yang menegakkan nilai-nilai tauhid di muka bumi ini. Nilai-nilai tauhid yang telah diperjuangkan oleh para nabi sejak Nabi Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang berisi ajaran amar ma’ruf (humanisasi dan emansipasi) (QS. Ali Imran ayat 104)., nahi munkar (liberasi/ pembebasan) (QS. Ali Imran ayat 110) dan tu’minuna billah (spiritualisasi) (QS. Al-Fatihah ayat 1-7). Tiga nilai itulah yang menjadi dasar bagi IPM untuk menjadikan Islam sebagai agama yang transformatif, agama yang kritis terhadap realitas sosial, pro-perubahan, anti-ketidakadilan, anti-penindasan, anti-pembodohan serta memihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Singkatnya, itulah yang dinamakan Islam transformatif yang menjadi cara pandang IPM dalam berjuang dan harus tertanam kuat pada setiap diri kader IPM.
Untuk mewujudkan IPM menjadi gerakan kritis, maka strategi keislaman yang harus kita bangun adalah Islam yang dinamis. Internalisasi Islam transformatif dalam diri kader dan gerakan menjadi syarat mutlak. Semakin kader memahami apa itu Islam transformatif, maka semakin radikal (mendalam) pula pemahaman mereka dalam merealisasikan gerakan kritis IPM di ranah perjuangan. Selama kader-kader kita masih belum memahami apa itu Islam transformatif, maka selama itu pula gerakan kritis IPM akan mengalami stagnasi (jalan ditempat). Karena pemahaman Islam transformatif merupakan dasar bagi terbangunnya ideologi gerakan kritis IPM.
Komponen strategi implementasi aksi bidang Kajian dan Dakwah Islam diarahkan pada upaya reinterpretasi konsep Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ). Konsep GJDJ sebagai payung besar strategi KDI tidak didefenisikan sebagai aksi dakwah bil lisan semata tapi juga mengacu dalam pengertian yang lebih luas meliputi penajaman aspek-aspek intelektual keislaman dan pemberdayaan serta pendampingan pelajar dalam kegiatan – kegiatan alternatif. Dengan kata lain bidang Kajian dan Dakwah Islam meliputi aksi –aksi yang berwajah intelektual–teoritis dan juga mencakup dimensi pengalaman –pengalaman empirik.
Gerakan jamaah yang dimaksud adalah inti kelompok yang hidup bersama –sama untuk saling belajar dan bertukar pikiran, saling tolong menolong, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sehingga dapat menciptakan suasana keislaman yang bersifat universal serta menyelesaikan problematika hidup sehari-hari. Dakwah jamaah yang dimaksud didasari oleh satu kesatuan tim yang disebut inti jamaah. Dalam realisasinya, inti jamaah ini tidak mengatasnamakan diri sebagai pimpinan, walaupun secara formal menyandang predikat pimpinan.
Model – model yang dapat digunakan dalam GJDJ seperti pendampingan sebaya, model mentoring, pendekatan tutorial, paket muhasabah, kelompok kajian keislaman, kajian on line melalui teknologi internet, radio dan beberapa model alternatif lainnya. Pada Muktamar IRM XVI di Surakarta disepakatilah bahwa agenda aksi bidang Kajiandan Dakwah Islam adalah Pengajian Islam Rutin yang akan dibahas pada bab berikutnya.
BAB III
Permasalahan Pelajar
Dalam perkembangannya pelajar mengalami berbagai macam pilihan hidup, pelajar yang notabenenya masih labil dari segi emisional dan prinsip hidup, sangat mudah untuk dijadikan sebagai obyek penghancuran nilai-nilai dan buday$a, bahkan bisa menjadi agen perubahan menuju kerusakan mentalitas dan moralitas bangsa. Diakui atau tidak, dewasa ini budaya materialis dan pengagungan terhadap wow image atau senang jika dinilai wah oleh orang lain sudah berurat berakar digenerasi muda kita. Sehingga dengan segala cara para pelajar mulai ingin menunjukkan identitas dirinya walaupun cara yang digunakan sangat jauh dari norma susila dan agama. Sebagai contoh, makin maraknya video mesum di kalangan pelajar dan sudah mulai menjamur di masyarakat merupakan bentuk penyimpangan sosial yang kini dianggap sangat biasa dan wajar. Kemudian makin meningkatnya konsumsi pulsa dan penggunaan telepon seluler serta makin sedikit pelajar yang mengkonsumsi buku (budaya membaca). Ini merupakan bukti dari makin mundurnya peradaban intelektual dikalangan pelajar. Untuk itu dapat dipetakan beberapa problematika mendasar yang sekarang menghinggapi hampir semua lapisan pelajar, antara lain :
1.Budaya Pop
Makin meningkatnya taraf hidup seakan membuat orang makin meningkatkan citra diri dari yang semula biasa biasa saja menjadi luar bisa dan ingin disebut wah serta tidak ketinggalan jaman. Akhirnya pelajar pun ikut-ikutan dalam dunia glamour alam modernisasi. Sebagai contoh, dulu pelajar tidak malu ketika membeli sesuatu di pasar tradisional, namun kini harus di mall atau super market. Selain itu budaya shopping juga merambah pada generasi muda sejak anak-anak. Fashion atau busana juga serba tidak karuan, pelajar sudah mulai kehilangan identitasnya. Yang mengerikan lagi, murid atau pelajar Muhammadiyah diwajibkan mengenakan jilbab di sekolah, namun setelah keluar dari linggungan sekolah mereka langsung lepas jilbab. Makanan yang dikonsumsi pun berimbang dengan gaya hidup mereka, serba mewah, serba instant dan serba made in luar negeri.
2.Perkembangan Teknologi Tidak Diimbangi dengan Pendidikan Moral
Arus perkembangan teknologi tidak dapat dibendung lagi, karena tanpa adanya perkembangan teknologi berarti peradaban manusia tidak berkembang atau stagnan. Namun perkembangan ternologi tanpa diimbangi dengan peningkatan pendidikan moral, intelektual dan agama tentu akan terjadi ketimpangan. Seperti perkembangan handphone yang begitu pesat dengan berbagai fiture dan fasilitas baik itu kamera, bloothut maupun video sering disalahgunakan untuk hal-hal yang bertolak belakan dengan budaya dan moralitas. Makin meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar merupakan imbas dari video mesum dari HP ke HP. Internet juga menjadi penyumbang yang cukup besar dalam membobrokkan generasi muda, memang banyak keuntungan yang diperoleh dari internet tetapi lagi-lagi kemampuan moral generasi muda kita belum bisa memproteksi suguhan serba syur di dunia maya tersebut.
3.Penjajahan Budaya (cultural imperialism)
Dibukanya era perdagangan bebas ternyata sangat berpengaruh pada globalisasi budaya, termasuk di Indonesia. Namun hal ini tidak dibarengi dengan filterisasi budaya barat yang masuk, alhasil hampir separuh budaya Indonesia tergeser, termarginalkan dan akhirnya hilang. Sampai-sampai banyak generasi muda yang tidak bangga dengan budayanya sendiri. Coba kita lihat betapa hebohnya perayaan tahun baru Masehi (1 Januari), sedangkan tahun baru Hijiriyah (1 Muharram) hampir hanya orang-orang tua yang merayakan. Hal lain yang mulai membudaya pada generasi muda Islam adalah perayaan Valentine Day yang tidak jelas juntrungnya. Penjajahan budaya ini sangat kentara sekali di kalangan pelajar kita, dari yang dulu tabu kini menjadi biasa seperti pacaran tanpa sex itu hampa. Padahal Allah swt telah memperingatkan manusia untuk tidak mendekati zina. Mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukannya. Alih-alih pemerintah melakukan penanggulangan, malah beberapa waktu lalu disediakan ATM kondom yang katanya untuk menanggulahi HIV AIDS dan PMS lainnya. Padahal secara tidak langsung dengan disediakannya ATM kondom tersebut pemerintah telah melegalkan seks bebas. Na’udzubillah....bahkan pemerintah sekalipun ikut andil dalam meruntuhkan bangunan moral generasi muda.
Kampus terbuka (pendidikan tidak terarah)
4.Kemiskinan dan Imperialisme modern
Dimanapun manusia berada, kemiskinan pasti menjadi hantu yang sangat menakutkan. Kemiskinan akan berakibat pada ketidakmampuan untuk mengenyam pendidikan, kemudian generasi akan menjadi bodoh, selain itu pemenuhan gizi terhambat, mudah terjangkit penyakit, dan berakhir pada tindakan nekat untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya, seperti premanisme, pencurian, perampokan dan lain-lain. Memang antara kemiskinan, pendidikan, dan kejahatan seperli lingkaran syetan yang tidak terpisahkan. Hal ini dibentuk oleh kaum kapitalis atau imperialisme modern yang menyerang bangsa ini dari sektor ekonomi. Masyarakat dibodohkan dan sistem ekonomi dimonopoli oleh orang-orang kuat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar